Angkasa Pura 2

Perempuan Hamil 5,5 Bulan Diusir Dari Gerbong Eksekutif Kereta Komuter

Emplasemen Perspektif Bang AweKamis, 11 Februari 2016
005A30AB000004B0-3439618-A_Southeastern_spokesman_said_the_incident_had_been_reported_and-m-11_1455118161067

LONDON (BeritaTrans.com) – Rigid alias kaku dalam bertugas kadang menimbulkan persoalan tersendiri, bahkan dapat bertabrakan dengan nilai kemanusiaan.

Salah satu persepsi rigid atau tegas namun tidak bijak sehingga berdampak serius terhadap nilai kemanusiaan tersebut dapat ditangkap dari fakta seorang petugas pengecek tiket kereta komuter, yang mengusir seorang perempuan hamil dari tempat duduknya.

Pengusiran pada Rabu (10/2/2016) itu dengan alasan Becky Nicholls, nama perempuan tersebut, hanya memiliki tiket kelas standar atau ekonomi. Padahal gerbong yang dimasuki wanita yang tengah hamil 5,5 bulan itu adalah kelas prioritas atau eksekutif.

310A02E600000578-3439618-Becky_Nicholls_was_left_humiliated_by_a_ticket_inspector_who_for-a-29_1455064004172

Dailymail.co.id, Kamis (11/2/2016), memberitakan peristiwa itu terjadi saat ibu hamil yang juga bekerja sebagai manajer di satu perusahaan di Bromley tersebut bepergian menggunakan kereta komuter dari Bromley South ke London Victoria.

Wanita berusia 29 tahun itu awalnya memang berniat masuk ke gerbong kelas standar. Namun niat itu diurungkan karena ternyata gerbong tersebut sudah sesak oleh penumpang. Melihat gerbong kelas eksekutif dengan fasilitas pelayanan penumpang sesuai dengan kursi yang tersedia, Nicholls memilih masuk ke gerbong tersebut.

Kebetulan ada satu kursi kosong tersedia. Nicholls memilih untuk duduk di kursi tersebut. Namun baru saja duduk, seorang petugas kereta menghampiri dan menanyakan tiket. Mengetahui perempuan itu hanya memiliki tiket kelas ekonomi, petugas tersebut dengan tatapan dingin dan nada suara datar, memerintahkan Nicholls untuk bangun dari tempat duduk dan pindah ke gerbong ekonomi.

Nicholls tak hendak mengeluarkan penolakan terhadap perintah petugas tadi. Dia hanya mampu meneteskan air dari sudut mata. Terbayang dalam pikirannya bahwa dia dengan beban berat di perut harus berdiri berdesakkan dengan penumpang lain. “Saya dipermalukan,” tuturnya kepada dailymail.

Saat kritis bagi Nicholls akhirnya terlewati seiringan dengan kesediaan seorang penumpang menyerahkan kursinya untuk diduduki oleh perempuan tersebut. Nicholls pindah ke kursi tersebut. Sedangkan penumpang tadi pindah ke gerbong kelas ekonomi setelah bertukaran tiket dengan Nicholls.

Perkara memalukan dalam pelayanan perkeretaapian Inggris, yang dioperasikan National Rail, muncul melalui media sosial ke tataran publik. Karuan saja pihak operator kereta segera mengeluarkan pernyataan.

Pihak National Rail menyatakan AKAN meminta maaf kepada Nicholls. Perhatikan penggunaan huruf kapital dalam tulisan ‘akan’. Penulisan itu penting karena pihak operator baru berniat meminta maaf.

Parahnya lagi, operator kereta melampirkan pembelaan diri dalam pernyataan resminya. National Rail menyatakan petugas inspektur tiket tidak bersalah karena hanya menjalankan tugas. Selain itu, operator ini malah menyalahkan Nicholls, dengan ‘dakwaan’ bahwa seharusnya perempuan itu mengurus ‘Priority Card’ alias kartu prioritas sehingga mendapat keleluasaan untuk duduk di kursi manapun dalam keadaan darurat.

Pembelaan diri sambil menyalahkan pihak lain seperti itu ternyata bukan hanya milik sejumlah perusahaan dan instansi pemerintah di Indonesia ya. Bukannya introspeksi sambil membenahi pelayanan, malah menyerang pihak yang komplain.

Pembenahan pelayanan itu antara lain operator kereta secara proaktif menawarkan kartu prioritas atau paling minimal menyediakan kartu tersebut di terminal keberangkatan. Lalu petugas mengawal penumpang tadi agar terjamin mendapatkan tempat duduk. Secara bersamaan menindak petugas atau pejabat yang berlaku tak pantas.

Betulkah begitu, saudara – saudara?

(Agus Wahyudin/email: beritatrans@gmail.com).