Angkasa Pura 2

Tommy Hadiri Keel Laying 6 Kapal Latih Taruna

Dermaga SDMRabu, 17 Februari 2016
Keel lay

PONTIANAK (BeritaTrans.com) – Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo, SH, M.Si hadir pada acara keel laying atau peletakan lunas pembangunan 6 kapal latih taruna.

Keel laying dilakukan di galangan kapal MT Steadfast Marine, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (17/2/2016).

Ikut hadir pda acara ini, Irjen Kementerian Perhubungan Dr. Chris Kuntadi, Kapusbang SDM Perhubungan Laut Drs. Ridwan Setiawan,MT, M.Mar.E Kapusbang SDM Perhubungan Darat Ir. Hotma Simanjuntak dan seluruh Kepala UPT yang akan menerima kapal latih tersebut.

Mereka adalah Kepala BP2IP Malahayati H.Hartanto,M.Mar.E, MH, Ketua STIP Jakarta Pranyoto, SIP, MAP, Direktur Poltekpel Surabaya Capt. Marihot Simanjuntak, Direktur PIP Makassar Ahmad Wahid, MT, M.Mar.E, Kepala BP2IP Minahasa Selatan Capt. Egbert Edward, dan Kepala BP2IP Sorong, Papua Barat Capt. Heru Susanto,MM.

Selain itu hadir pula, perwakilan Pemprov Kalbar, Pemkot Pontianak, Komut PT Steadfast Marine Eddy Kurniawan Logam, Presdir PT Steadfast Marine Rudy Logam, dan tamu undangan dari sipil dan militer di Kota Pontianak.

Dalam laporannya, Ketua STIP Jakarta Pranyoto, SIP, MAP menyatakan, pembangunan kapal dijadwalkan selesai 25 bulan atau akhir tahun 2017 dan diserahkan. Setelah diserahkan, kapal akan langsung dioperasikan sebagai kapal latih taruna, sekaligus melayani rute-rute perintis di Tanah Air.

Keel lay2

“Pembangunan enam kapal ini diharapkan bisa selesai tepat waktu, dan akhir 2017 sudah diserahkan,” jelas Pranyoto.

Sementara Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo, SH, M.Si menyambut gembira pembangunan kapal latih ini. Kapal latih itu diharapkan bisa menampung kadet untuk praktek layar (prala) serta kadet-kadet dari sekola pelaut swasta di Tanah Air. “Dengan enam kapal latih mampu menampung 600 taruna atau kadet,” tutur Tommy.

Ke depan, lanjut dia, enam kapal latih ini bukan hanya untuk praktek taruna sekolah-sekolah negara. “Tapi juga sekolah pelayaran swasta bisa ikut praktek disana,” tandas Tommy.

Dia menambahkan, kapal latih taruna itu dibali dengan uang rakyat di APBN. Oleh karena itu, taruna dari sekolah-sekolah swasta juga bisa ikut memanfaatkan kapal tersebut untuk praktek layar. “Fasilitas praktek seperti kapal latih, simulator itu mahal harganya. Sangat berat bagi sekolah swasta untuk membeli dengan uang sendiri. Oleh karennya, kita berikan kesempatan mereka ikut praktek layar, selama memenuhi syarat,” terang Tommy.

“Pada prinsipnya, sekolah pelaut itu harus memenuhi standar internasional atau IMO. Mereka tidak hanya selesai belajar di kelas, tapi harus praktek layar. Oleh karena itu, BPSDM Perhubungan akan menerima kadet dari sekolah pelayaran swasta jika ingin praktek layar. Jika kualitas pelaut kita bagus, mereka lebih profesional dan pada saatnya nanti bisa kerja sebagai pelaut secara bagus,” tegas Tommy. (helmi)