Angkasa Pura 2

Sugeng Wibowo Ingatkan Seluruh UPT Agar Tingkatkan Pengawasan Standar Keselamatan Kapal Ro-Ro

DermagaMinggu, 6 Maret 2016
Soegeng_Wibowo

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktur Perkapalan dan Kepelautan (Dirkapel) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ir. Sugeng Wibowo kembali mengingatkan kepada seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Hubla mulai dari Kesyahbandara Utama, Otoritas Pelabuhan, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Kantor Pelabuhan Batam, dan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) agar meningkatkan pengawasan kepada kapal-kapal Roll On – Roll Off (Ro-Ro) yang mengangkut barang dan kendaraan.

Kapal-kapal tersebut wajib memenuhi standar keselamatan sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut No. UM.003/5/10/DK-16 tentang Standar Keselamatan Pegangkutan Kendaraan Pada Kapal Penumpang Ro-ro.

“Musibah yang menimpa kapal Rafelia II di perairan Selat Bali harus menjadi pelajaran. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, tetapi saya kembali ingatkan jangan main-main dengan aturan keselamatan. Dan para kepala UPT wajib memastikan kapal-kapal Ro-Ro yang berlayar harus memenuhi standar keselamatan sesuai aturan perundang-undangan,” kata Sugeng Wibowo kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans di Jakarta, Minggu (6/3/2016).

Sugeng Wibowo mengatakan, berdasarkan perintah Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut telah mengeluarkan surat edaran tentang standar keselamatan kapal Ro-Ro tersebut pada tanggal 19 Februari 2016 lalu.

“Makanya saya ingatkan kembali agar seluruh Kepala UPT meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal penumpang Ro-Ro yang mengangkut kendaraan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Edaran Dirjen Perhubungan Laut tersebut,” katanya.

Berikut Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut No.UM.003/5/10/DK-16 Tentang Standar Keselamatan Pengangkutan Kendaraan Pada Kapal Penumpang Ro-Ro

1. Sehubungan untuk meningkatkan keselamatan kapal-kapal penumpang Ro-Ro, pemenuhan standar keselamatan pengangkutan kendaraan di atas kapal serta meminimalkan kemungkinan kelebihan berat muatan, kesalahan penempatan muatan kendaraan, dan kurang kuatnya pelashingan kendaraan maka perlu beberapa hal ini wajib dilaksanakan.

a. Standar ukuran dan berat muatan kendaraan yang diijinkan untuk dimuat di atas kapal penumpang ro-ro sebagai berikut:
i. tinggi kendaraan tidak lebih dari 3,8 (tiga koma delapan) meter dan atau sekurang-kurangnya 1 (satu) meter dibawah springkel kapal;
ii. lebar kendaraan maksimal 2,5 (dua koma lima) meter;
iii. panjang keseluruhan kendaraan tidak lebih dari 12 (dua belas) meter;
iv. berat mutan yang dimuat diatas kendaraan yang diijinkan maksimum tidak lebih dari 20 (dua puluh) ton permeter persegi, atau tergantung dari Kapasitas beban geladak TDeck Load Capacity) ruang kendaraan.

b. Standar penempatan kendaraan di atas kapal harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
i. kendaraan ditempatkan memanjang searah haluan atau buritan kapal dan tidak boleh melintang kapal;
ii. jarak kendaraan dengan dinding kapal harus sedemikian rupa dan tidak boleh menutupi kran atau katup pemadam kebakaran dan jalan lalu orang;
iii. mesin kendaraan harus dimatikan, porseneling dan rem tangan harus diaktifkan serta semua kendaraan harus diikat (lashing) dengan alat lashing yang sesuai dengan jarak dan kondisi cuaca pelayaran serta roda kendaraan harus diganjal;
iv. penumpang dan pengemudi tidak diperbolehkan tinggal di dalam kendaraan selama dalam pelayaran;
v. ruang penempatan kendaraan harus steril dari adanya penumpang selama pelayaran.

c. Standar pelashingan (cargo securing manual) kendaraan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
i. kendaraan yang berat keseluruhannya antara 3,5 (tiga koma lima) ton sampai dengan 20 (dua puluh) ton, harus menggunakan sekurang-kurangnya 2 (dua) lashing dengan beban kerja yang aman (Safe Working Load/SWL) yang sesuai pada masing-masing sisi kendaraan;
ii. kendaraan yang berat keseluruhannya antara 20 (dua puluh) ton sampai dengan 30 (tiga puluh) ton harus menggunakan sekurang-kurangnya 3 (tiga) lashing dengan SWL yang sesuai pada masing-masing sisi kendaraan;
iii. kendaraan yang berat keseluruhannya antara 30 (tiga puluh) ton sampai dengan 40 (empat puluh) ton harus menggunakan sekurang-kurangnya 4 (empat) lashing dengan SWL yang sesuai pada masing-masing sisi kendaraan;
iv. peralatan pengikat (lashing gear) yang digunakan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia.

2. Nakhoda harus dapat memastikan bahwa butir l.a, l.b dan l.c telah dilaksanakan dan dilaporkan kepada Syahbandar/Marine Inspector sebelum keberangkatan kapal.

3. Seluruh Syahbandar Utama, Kepala KSOP, Kepala Kanpel Batam, Kepala KUPP dan Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal (Marine Inspector) agar dapat memastikan pelaksanaan ketentuan ini.

4. Demikian disampaikan, untuk menjadi perhatian dan pelaksanaannya.

Ditetapkan di: Jakarta 19/2/2016

(aliy)