Angkasa Pura 2

Bangun Objek Wisata Andalan

Pelancong Harus Diberikan Alternatif Transportasi Umum Yang Baik

Bandara Destinasi Emplasemen KoridorMinggu, 13 Maret 2016
uploads--1--2013--03--10305-fototerminaltow-ok-ratusan-awak-bus-akdp-jurusan-pantura-mogok

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pelancong mancanegara atau dari dalam negeri yang berkunjung ke satu objek wisata di Tanah Air harus diberikan alternatif angkutan umum yang baik, murah, aman dan nyaman. Trayek angkutan umum itu langsung menghubungan objek iwsata dengan terminal, bandara, stasiun KA atau pelabuhan laut bahkan hotel yang ada di pusat kota.

“Jadi, pelancong yang datang dan ingin berlibur di Indonesia serta menyaksikan objek wisata di Tanah Air tidak harus dengan kendaraan pribadi, tapi transportasi umum yang nyaman juga harus tersedia,” kata [akar transportasi FT Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno, ST,MT menjawab BeritaTrans.com di Jakarta, Minggu (13/3/2016).

Menurutnya, bagi pengelola objek wisata di Tanah Air juga tidak harus memikirkan sediakan lahan parkir luar, karena pelancong masih dapat menggunakan transportasi umum yang tersedia dengan baik dan nyaman.

Hal seperti ini, menurut Djoko, belum atau bahkan tidak dipikirkan di penentu kebijakan sektor transportasi di Tanah Air, baik Pemerintah Pusat atau daerah (Pemda).

Danau Toba dan objek wisata andalan lainnya, papar Djoko, bisa diintegrasikan dengan akses jalan rel KA lintas Medan-Pematangsiantar. Dapat dibuat angkutan lanjutan Pematangsiantar-Danau Toba yang jaraknya hanya sekitar 1 jam perjalanan.

“Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Danau Toba sekaligus menggerakkan perekonomian daerah Sumatera Utara, bisa diambil kebijakan yang tepat disana. Caranya antara lain dengan menambah frekuensi perjalanan KA yang melintasi kawasan ini,” terang Djoko.

“Di Malang Jawa Timur, Jakarta dan Solo Jawa Tengah sudah ada bus tingkat wisata yang dikelola Pemda. Di Surabaya Jawa Timur lebih dulu ada bus wisata yang dikelola swasta, yaitu PT Samperna,” papar Djoko.

Jika ingin menambah jumlah pelancong, menurut Djoko, maka harus bisa memperbaikilah akses transportasi, yakni transportasi umum & fasilitas kendaraan tidak bermotor (jalur sepeda dan pejalan kaki), bukan sekedar membangun prasarana jalan semata.

Perpres Pengelolaan Daerah Wisata, tambah Djoko, harus memasukkan sektor transportasi untuk ikut dibenahi an disempurnakan pelayanannya. Memebanhi dan membangun objek wisata andalan dalam rangka menggaet kunjungan wisatawan harus dilakukan bersama-sama, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan.

“Mulai dari membuat masterplan pengembangan wisatanya sudah dapat ditentukan jenis transportasi apa saja yang dapat dibangun untuk mendukung daerah tujuan wisata tersebut,” tegas Djoko.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari