Angkasa Pura 2

Iskandar Abubakar: Solusi Taksi Online & Konvensional

Rubrik Iskandar AbubakarSelasa, 29 Maret 2016
138e741.jpg.cf

Pada hakekatnya seseorang dalam melakukan perjalanan memilih moda angkutan atas dasar acuan waktu perjalanan dan biaya sebagai pertimbangan utama disamping keselamatan, keamanan dan kenyamanan, mereka tidak mempertimbangkan resmi tidaknya moda angkutan itu.

Pada segmen masyarakat menengah pengguna angkutan umum yang juga merupakan pengguna ponsel pintar mempunyai alternatif menarik yang lebih mudah, murah, praktis dengan kualitas bahkan bisa lebih baik dari taksi adalah Grab dan Uber.

Mereka tidak peduli apakah kendaraannya itu resmi atau tidak, kendaraan diuji atau tidak yang penting mereka membayar lebih rendah, sampai lebih cepat dan dapat dilakukan pemesanan melalui telpon pintar mereka.

Mereka tidak mempermasalahkan mobilnya resmi atau tidak karena proses perizinan yang tidak transparan, diuji atau tidak sebab kualitas pengujian kendaraan bermotor dilakukan dipertanyakan. Yang terpenting mereka bisa sampai ditempat tujuan dalam waktu yang lebih singkat dan biaya lebih murah.

Lebih memprihatinkan lagi keberadaan dan perkembangan Grab dan Uber dalam dua tahun terakhir ini dibiarkan saja oleh pemerintah sampai jumlahnya menjadi sedemikian besarnya sehingga mengganggu keberadaan dari taksi resmi. Konflik pun akhirnya tidak bisa lagi dihindari.

Permasalahan lain yang juga muncul adalah terjadinya over supply angkutan taksi, menurunnya pendapatan pengemudi taksi kovensional, sedangkan angkutan Grab dan Uber karena menggunakan aplikasi bisa mengopptimalkan waktunya dengan lebih baik sehingga pendapatannya jauh lebih besar dari taksi resmi.

taxi online

Keadaan ini mendorong terjadinya peralihan pengemudi taksi resmi ke Grab dan Uber yang tentunya hal ini disadari oleh pengusaha taksi. Sehingga jalan keluarnya pengusaha taksi memprotes keberadaan Grab dan Uber sebagai saingan mereka atau mereka mati tergilas modernisasi.

Untuk mengatasi pertentangan lebih lanjut semua pihak harus berbenah, pemerintah harus mencari jalan keluar terbaik, lebih fleksibel dalam mengikuti perkembangan tehnologi, memantau perkembangan yang terjadi di lapangan, melepas tarif taksi ke mekanisme pasar , taksi konvensional dan resmi harus berbenah diri mengikuti perkembangan tehnologi dan taksi aplikasi harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah.

Iskandar Abubakar, Mantan Dirjen Perhubungan Darat, Ketua GRSP-Indonesia @iskandarabu