Angkasa Pura 2

Iskandar Abubakar: Tarif Bus & Angkot Tak Perlu Turun

IMG_1835(3)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Wajarkah pemerintah menurunkan tarif angkutan sehubungan dengan turunnya harga bahan bakar untuk Premium Rp7.050 jadi Rp6.550 per liter sekitar 7,1 persen dan solar Rp5.750 menjadi Rp5.250 per liter 8,7 persen.

Untuk menjawab pertanyaan itu marilah kita lihat komponen bahan bakar dalam harga pokok tarif angkutan yang berada pada kisaran 18 sampai 24 persen sehingga pengaruh dari penurunan bahan bakar ini 1,2 sampai 5,7 persen atau rata-rata 3,4 persen.

Penurunan harga bahan bakar ini tidak akan signifikan untuk bus dan angkot karena yang tarifnya fixed Rp3.500 hanya Rp 120, yang jelas tidak akan bisa diterapkan sedangkan untuk tarif yang berada pada kisaran Rp15.000 masih bisa diturunkan Rp500.

Penurunan tarif bisa dilakukan dengan mudah bila pembayaran dilakukan dengan kartu bayar electronik seperti yang sudah diterapkan pada TransJakarta. Kalau ini diterapkan akan meningkatkan penggunaan kartu elektronik karena mereka membayar lebih murah dari bayar cash atau uang kontan.

25-02-2014-all-0004

Berbeda dengan angkutan bus antarkota yang tarifnya di atas Rp15.000 masih bisa diturunkan dan bisa diterapkan. Demikian juga untuk angkutan barang dan angkutan ferry yang persentase komponen bahan bakarnya tinggi signifikan untuk diturunkan.

Tarif taksi masih bisa diturunkan melalui perubahan pada argometer, dan akan berpengaruh juga pada angkutan online seperti Gojek, Grab, Uber dan angkutan lainnya.

Penurunan tarif hanya bisa diterapkan pada angkutan yang tarifnya di atas Rp15.000 dan tidak signifikan pada angkutan kota yang tarifnya di bawah Rp 15.000 karena alasan uang pengembalian yang sulit disediakan atau bila menggunakan kartu bayar electronik.

Iskandar Abubakar, Mantan Dirjen Perhubungan Darat, Ketua GRSP-Indonesia @iskandarabu