Angkasa Pura 2

Kopda Su’udi, Pengemudi Kendaraan Tempur TNI-AL Harus Bisa Mengoperasikan Dan Memperbaiki Kerusakan

Another News Koridor SDMSabtu, 2 April 2016
Kopda Su'udi tank

PASURUAN (BeritaTrans.com) – Menjadi pengemudi memang harus profesional dan mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM) yang dikeluarkan instansi yang berwenang. Untuk warga sipil, SIM dari Ditlantas Polri dan militer dari instansi Diklat di lingkungan militer atau dineal SIM Militer.

Itulah yang dilakukan Kopda Su’udi, salah satu personel Marinir TNI-AL. Pria tengah baya ini sudah 14 tahun mengabdi sebagai anggota TNI-AL, dan sejak tahun 2003 menjadi pengemudi kendaraan tempur militer bahkan tank TNI-AL.

Su’udi mengaku sangat menikmati profesi ini. Hampir setiap ada tamu, kemudia dilakukan eksibisi keliling komplek Puslatpur 3 Grati, Pasuruan, dia selalu dilibatkan, yaitu mengantar tamu keliling kompeks dengan kendaraan angkut tempur dan tank.

Tommy diatas Tank

“Untuk mengantar tamu, memang kurang menantang. Tapi, saya bisa mengantar tamu-tamu termasuk para pejabat tinggi sipil dan TNI yang berkunjung ke Puslatpur 3 Grati. Tidak semua anggota mempunyai kesempatan mengantar tamu, berdialog dan bercengkerama dengan mereka itu,” aku Su’udi menjawab BeritaTrans.com di Grati, Pasuruan, Sabtu (2/4/2016).

Menurut Su’udi, ada kepuasan batin tersendiri bisa mengantar tamu kehormatan, bahkan para pejabat tinggi di negeri ini. “Kebahagiaan dan kebanggaan ini tak bisa dihargai secara ekonomi,” papar Su’udi lagi.

Tommy diatas tank2

Latihan Di Pusdik Gunungsari

Untuk menjadi pengemudi kendaraan tempur, menurut Su’udi, tidak mudah. “Harus menjalani pendidikan dan latihan khususnya di Pusdik Marinir di Gunungsari, Surabaya, Jawa Timur,” tandas dia.

Sebagai personel militer, kita awalnya dikenalkan dengan senjata tempur tentunya. Setelah mengikuti pendidikan kejuruan, baru bisa mengikuti diklat sesuai kemampuan dan kecenderungan masing-masing. “Mulailah saya mengikuti diklat sampai bisa mendapatkan SIM Militer ini dan bisa mengemudikan kendaraan temput seperti ini,” tukas Su’udi.

Mengemudi kendaraan tempur tidak mudah, apalagi jika harus melintasi jalanan umum. Oleh karenanya, harus dilakukan secara profesisonal pula, dan tetap mengutamakan keselamatan.

Tank Marinir

“Itulah sebabnya, diawal diklat dulu kita dikenalkan dengan berbagai perlengkapan dan pernik-pernik kendaraan temput seperti ini. Kemudian, secara bertahap belajar mengoperasikan kendaraan temput sesuai medan mulai yang ringan sampai berat,” terang Su’udi.

“Kendaraan angkut tempur atau tank pun bisa melaju sampai 50-60 km/ jam. Tapi, jika berjalan di kompleks diklat apalagi di medan yang terjal, tentu tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi, tetap harus hati-hati, sehingga tidak mencelakai anggota,” papar Su’udi bersama temannya Kopda Budi itu.

Selain bisa mengemudikan kendaraan tempur, menurut Su’udi, pengemudi militer juga harus bisa merawat jika perlu bisa memperbaiki jika kendaraan kita mengalami kerusakan di perjalanan. Apalagi, rata-rata kendaraan temput TNI, termasuk yang ada di Puslatpur 3 Grati sudah tua, karena dibeli zaman Presiden Soekarno saat perebutan Irian Barat, tahun 1962 silam.

“Tapi kita tak boleh mengeluh. Semu aset dan senjata temput milik TNI harus dijaga dan dirawat dengan baik. Saat dibutuhkan di lapangan, bisa dioperasikan dengan baik dan selamat,” tegas Su’udi.(helmi)