Angkasa Pura 2

YLKI: Pembangunan Simpan Susun Semanggi Bisa Kontra Produktif

KoridorMinggu, 10 April 2016
Tulus YLKI

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pemprov DKI memutuskan untuk membangun simpang susun Semanggi. Tujuannya untuk mengurai kemacetan, baik dari arah Jalan Gatot Soebroto/ Polda Metro Jaya dan atau arah Jalan Soedirman yang berpapasan dengan arah Slipi.

Proyek pembangunan flyover Bundaran Semanggi ini memiliki panjang 796 meter (ramp 1), dan 826 meter (ramp-2), lebar jalan 8 meter 2 lajur, proyek ini nilainya mencapai Rp 345,067 miliar. Pembangunan sendiri rencananya akan berlangsung selama 540 hari kalender kerja dan diharapkan dapat mulai beroperasi pada 17 Agustus 2017.

Peletakan batu pertama pembangunan simpang susun Semanggi telah dilakukan, kemarin. “Pertanyaanya, benarkah simpang susun Semanggi nantinya akan mampu mengurai kemacetan,” kata Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi dalam siaran pers kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Sabtu (9/4/2016).

Menurutnya, dalam jangka pendek, bisa jadi simpang susun (fly over) Semanggi akan berhasil mengurai kemacetan di sekitar Semanggi. Khususnya dari arah Jalan Gatot Soebroto, Slipi, dan Soedirman.

Tetapi, kata Tulus, kemampuan simpang susun tersebut mengurai kemacetan tidak lebih dari 6 bulan-1 tahun saja. Selebihnya, simpang susun justru akan berfungsi sebaliknya: memicu dan melahirkan kemacetan baru.

“Hal ini karena pembangunan fly over/ under pass selalu dibenturkan dengan tidak imbangnya ratio luas jalan dengan ratio pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor pribadi,” papar Tulus.

Dia menambahkan, fly over, under pass dan bahkan pembangunan jalan baru tidak lebih merupakan karpet merah bagi warga Jakarta untuk memiliki dan menggunakan kendaraan bermotor pribadi untuk mobilitasnya. “Warga Jakarta menjadi malas menggunakan angkutan umum. Apalagi angkutan umum di Jakarta sampai detik ini masih amburadul, sekalipun Transjakarta. Yang dikelola UMD Pemprov DKI Jakarta itu,” kilah Tulus.

Dalam pandangan YLKI, pembangunan simpang susun Semanggi merupakan hal yang kontra produktif bagi lalu-lintas di Jakarta. Apalagi dari sisi tata-ruang, simpang susun Semanggi akan memperburuk tata ruang di sekitar Semanggi.

“Seharusnya Pemprov DKI hanya membangun simpang susun atau under pass, untuk lokasi yang beririsan dengan rel kereta api (lintas sebidang),” tegas Tulus. (helmi)