Angkasa Pura 2

Sinergi Pemerintah, BUMN dan Masyarakat Harus Kedepankan Good Corporate Governance

Bandara Dermaga Kokpit KoridorSelasa, 12 April 2016
SCI Loggo

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sinergi di antara perusahaan BUMN dan atau anak usaha di sektor logistik akan bermanfaat untuk meningkatkan utilisasi aset, optimalisasi rencana investasi (pengembangan fasilitas), meningkatkan integrasi pelayanan, dan meningkatkan daya saing. Seluruh komponen dan potensi bangsa baik Kementerian atau lembaga dan BUMN harus bersatu memperkuat dan memberdayakan ekonomi rakyat.

“Sinergi BUMN dan atau anak usaha di sektor logistik akan meningkatkan efisiensi operasional yang akan berdampak bagi perusahaan-perusahaan yang dilayani (baik swasta maupun BUMN produsen) maupun terhadap logistik nasional, serta meningkatkan profitabilitas BUMN/anak usaha di sektor logistik itu sendiri,” kata Direktur Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Namun demikian, lanjut dia, sinergi di antara perusahaan-perusahaan BUMN harus dilakukan dengan tetap menjunjung Good Corporate Governance (GCG) dan menghindari praktik-praktik yang mengarah kepada monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat. Sebaliknya, hendaknya sinergi juga dikembangkan antara perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta dengan memanfaatkan kompetensi dan keunggulannya masing-masing.

Penggunaan Cold Chain

Dalam implementasi Program Aksi Sinergi untuk Ekonomi Rakyat, menurut Setijadi, Pemerintah perlu mengembangkan dan mendorong pemanfaatan cold chain (rantai dingin) mengingat komoditas-komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan yang bersifat perishable (mudah rusak). Penggunaan cold chain berpotensi mengurangi tingkat kerusakan komoditas atau produk, sehingga akan meningkatkan daya saing produk yang sangat penting dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Selanjutnya, Penggunaan cold chain di Indonesia belum optimal karena terkendala masalah infrastruktur dan fasilitas yang tidak memadai di lokasi produksi maupun di jalur distribusi, serta keterbatasan infrastruktur dan fasilitas pendukung, misalnya pembangkit listrik. Selain itu, terdapat kendala keterbatasan modal untuk investasi cold chain system, dan pemahaman para pelaku masih kurang terhadap penggunaan dan pemanfaatan cold chain.

Dalam upaya pemanfaatan cold chain, papar Setijadi, diharapkan peranan Pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur di sentra produksi, misalnya gudang penyimpanan, cold storage, dan mesin pembeku, serta infrastruktur distribusi, misalnya, pelabuhan dan terminal yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat dan unplug reefer.

“Selain itu, Pemerintah juga harus membangun sejumlah pusat pembangkit listrik untuk menjamin ketersediaan listrik (yang masih menjadi masalah di beberapa wilayah), serta memberikan insentif untuk mendorong pengembangan usaha dan investasi jasa logistik,” tegas Setijadi.(helmi)