Angkasa Pura 2

STKBM Temukan 3 PBM Bayar Upah Di Bawah Kesepakatan Bersama

DermagaKamis, 14 April 2016
IMG-20160413-WA0001-2

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tim dari Serikat Tenaga Kerja Bongkar Muat (STKBM) Pelabuhan Tanjung Priok masih menemukan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) membayar upah buruh di bawah upah kesepakatan bersama (KB) 2016.

Ketua STKBM, Nurtakim, Rabu (13/4/2016) mengatakan dari hasil pemantauan di lapangan sedikitnya ditemukan tiga PBM masing masing PT CMS, PT JC dan PT MKS masih membayar upah di bawah upah kesepakatan bersama (KB)

Dia mengatakan berdasarkan upah kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh pengguna dan penyedia jasa TKBM 16 Maret lalu untuk terminal konvensional pada hari biasa sebesar Rp 2.091.000/gang/shift dan berlaku sejak Maret 2016. Satu gang beranggota 12 TKBM.

Tapi kenyataan di lapangan ketiga PBM ( PT CMS, PT. JC dan MKS) hanya membayar upah buruh antara Rp 1.300.000 sampai Rp1.500.000/ gang/ shift. Selain itu ada yang melanggar ketentuan soal anggota dalam satu gang.

“Menurut ketentuan anggota dalam satu gang hanya 12 TKBM tapi kita menemukan ada PBM memakai TKBM satu gang beranggota 18 orang,” ujar Nurtakim kepada BeritaTrans.com dan tabloid mingguan Berita Trans.

Ketiga PBM tersebut akan dipanggil Koperasi TKBM untuk menanyakan alasan mereka membayar upah di bawah upah kesepakatan.

Menurut Nurtakim, STKBM akan terus mengawal pelaksanaan upah buruh 2016 di lapangan agar sesuai dengan kesepakatan bersama.

“Anda ‘kan tau saat penandatanganan upah kesepakatan bersama 16 Maret lalu, STKBM tidak hadir karena menilai upah buruh 2016 masih terlalu rendah,” tambahnya.

Tapi perjuangan STKBM meningkatkan upah buruh 2016 nyatanya belum berhasil. “Sekarang upah kesepakatan bersama sudah menjadi upah resmi. “Karena itu STKBM akan terus turun ke lapangan untuk melakukan pengawasan agar pembayaran upah buruh sesuai dengan kesepakatan bersama,” ujar Nurtakim.

STKBM mengimbau semua PBM khususnya yang melakukan bongkar muat di terminal konvensional agar tidak memainkan upah buruh. “Buruh itu ada yang kerja hanya dua kali dalam sebulan. Kasihan masa upah sudah kecil dikurangi lagi, ” ujarnya. (wilam)