Angkasa Pura 2

Mengurai Kesemrawutan Kawasan Stasiun Bekasi Ala Taruni STTD

Emplasemen Koridor SDMSabtu, 23 April 2016
Bellatri - laely

BEKASI (BeritaTrans.com) – Momentum Hari Kartini, 21 April 2016 dimanfaatkan dengan baik dua taruni STTD Bekasi, Bellatri dan Laely Sadiyah. Seolah tak mau kalah dengan kaum Adam, kedua taruni STTD itu dengan bangga mempresentasikan hasil penelitiannya untuk mengurai kesemrawutan lalu lintas, khususnya di kawasan Stasiun Bekasi Kota.

Bagi Bellatri dan Laely, perjuangan RA Kartini membuka peluang bagi kartini-kartini muda STTD Bekasi untuk terus berkarya dan berinovasi. Ini menjadi bagian realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma penelitian dan pengabdian masyarakat. Taruni tingkat II STTD itu melakukan survey untuk mencari solusi bagi kesemrawutan lalu lintas di Stasiun Bekasi.

“Kawasan Stasiun Bekasi terutama di pagi dan sore hari, menjadi titik krusial kemacetan yang parah. Stasiun Bekasi merupakan titik perpaduan antara berbagai moda transportasi antara KA/KRL, Angkot/AKAP dengan mobil pribadi bahkan sepeda motor dan sepeda (onthel) yang harus dikelola dengan baik. Masalah ini harus segera diakhiri dan dibenahi agar pelayanan transportasi semakin baik bahkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi baru khususnya bagi warga Kota Bekasi,” kata Bellatri, mengawali Presentasi Mini berjudul “From Crowded to Seamless” pada acara Seminar Masional di Kampus STTD, Bekasi, Kamis (21/4/2016) kemarin.

Study Kasus Stasiun Bekasi, menurut Bellatri, diketahui sebagai salah satu titik kepadatan dan kesemrawutan lalu lintas kendaraan umum bercampur dengan kendaraan pribadi. Kondisi itu, ditambah dengan area parkir serta manajemen parkir yang minim, khususnya di lingkungan Stasiun Bekasi, yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Untuk mengurai kesemrawutan lalu lintas itu, dua taruni STTD menawarkan tiga solusi jitu. Pertama, mengoptimalkan area parkir dengan management parkir yang baik dan berwawasan ke depan. “Memerlukan sistem satu pintu, dengan tarif yang wajar dan terjangkau,” kata Laely menambahkan.

Kedua, menurut Laely, pergantian antarmoda transportasi sekaligus bisa mengintegrasikan dengan baik, antara moda transportasi darat, mulai Angkot/AKAP, sepeda motor bahkan kendaraan pribadi dengan moda KA, baik KLR Jabodetabek atau KA Jarak Jauh yang kebanyakan juga berhenti di Stasiun Bekasi.

“Selanjutnya dengan meningkatan kualitas bahan bakar kendaraan atau feul, khususnya dengan copmressed natural gas (CNG) yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Selama ini, kendaraan di Indonesia termasuk Kota Bekasi masih mengandalkan BBM yang nota bene kurang ramah lingkungan,” papar Laely dihadapan peserta seminar termasuk dosen dan taruna madya dan dewasa STTD Bekasi.

Taruna STTD Seminar

Tiga Aspek Utama Transportasi

Seorang pakar transportasi, (Schafer, A.,1998) menyebutkan, ada tiga aspek utama utama yang harus dibangun dan ikut menyertai setiap pembangunan sektor transportasi, yaitu masalah sosial, ekonomi dan lingkungan. “Ketiga masalah itu harus bisa dikelola dengan baik sekaligus mengeliminer dampak negatif yang bisa ditimbulkannya,” papar Laely diharapan para mitra kerja STTD termasuk opereator angkutan umum Perum PPD, Perum DAMRI dan beberapa PO swasta itu.

Dari hasil survey di lapangan, dua taruni STTD itu menawarkan exit strategi yang bisa dilakukan untuk membenahi dan menata lalu lintas di kawasan Stasiun Bekasi. Pertama, mengatur dan mempercepat lalu kendaraan khususnya di kawasan Stasiun Bekasi tentunya dengan rekayasa lalu lintas dan pengaturan yang baik.

“Kedua, optimalisasi jalan dan jaringan tranportasi, baik moda transportasi KA, transportasi darat khususnya Angkot dan AKAP. Selain itu juga menyediakan fasilitas jalan untuk sepeda motor dan sepeda roda dua,” sebut Laely.

Ketiga, membangun jaringan dan infrastruktur yang berwawasan keselamatan atau safety. Kawasan Stasiun Bekasi menyediakan jembatan penyeberangan termasuk dengan area pemukiman, area parkir khususnya yang dikelola warga. Selain itu juga membangun jaringan trotoar yang baik dan memadahi khususnya untuk akses keluar-masuk calon penumpang KA dan Angkot dan kendaraan umum lainnya di sekitar Stasiun Bekasi.

Laely menambahkan, melalui penataan kawasan Stasiun Bekasi, Jawa Barat sekaligus juga membuka peluang usaha di sektor perparkiran, khususnya bagi Pemda atau Pemkot Bekasi. “Bisnis parkir jika dikelola secara baik dan profesional, termasuk di kawasan Stasiun Bekasi, Jawa Barat akan sangat menjanjikan nilai ekonomi yang cukup menggiurkan. Bisnis jika dikelola dengan baik dan efisien, bisa menjadi lahan usaha yang menjanjikan,” papar Bellatri menambahkan.

“Masalahnya sekarang, mampukah Pemkot Bekasi atau pelaku usaha termasuk PT KAI memanfaatkan peluang usaha bisnis parkir itu? Implikasinya jelss, membuat kawasan Stasiun Bekasi dan Kota Bekasi yang baik, aman dan lancar juga berdampak pada peningkatan pelayanan ke masyarakat,” tegas Bellatri.(helmi)