Angkasa Pura 2

Distrik Navigasi Tanjungpinang Layani Keselamatan Pelayaran Di Selat Malaka & Singapura

DermagaMinggu, 24 April 2016
Bambang Pur Navigasi

BATAM (BeritaTrans.com) – Menjaga keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura menjadi titik krusial bagi petugas Distrik Navigasi (Disnav) Kelas I Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), termasuk personel penjaga vessel traffic services (VTS) Batam.

“Selat Malaka dan Singapura merupakan alur pelayaran tersibuk di dunia. Setiap hari ada ribuan kapal yang melintas di sana. Jika tak dijaga dan diawasi dengan baik, bisa membahayakan keselamatan pelayaran. Bapak Menteri Perhubungan, Bapak Dirjen Perhubungan Laut dan Bapak Direktur Kenavigasian selalu mengingatkan kami harus lebih optimal dalam memberikan pelayanan sarana bantu navigasi pelayaran,” kata Kepala Disnav Kelas I Tanjungpinang Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Bambang Purwanto.

IMG-20160422-WA0026

Dalam perbincangan dengan BeritaTrans.com dan tabloid BeritaTrans, Minggu (24/4/2016), dia mengemukakan fakta memperlihatkan kasus-kasus kecelakaan di Selat Singapura seperti tabrakan kapal, kapal terbakar, tenggelam dan lainnya terjadi antara jam 00.00-01.00 bahkan sampai pagi hari.

“Tidak aneh jika kami sering menerima telpon ada kasus kecelakaan pada jam krusial itu. Implikasinya, kita harus menurunkan personel untuk membantu dan evakuasi para korban,” kata Bambang Pur, sapaan akrab dia.

IMG-20160422-WA0019

Kasus yang sering terjadi, menurut dia, justru banyak kapal tak menghidupkan automatic identification system (AIS), sehingga tak terdeteksi di VTS di Batam. “Baru setelah terjadi kasus kecelakaan, banyak laporan bahkan komplain termasuk dari pihak Jepang ke Disnav Tanjungpinang,” papar Bambang Pur.

Putra Solo Jawa Tengah itu menambahkan, untuk menjaga keselamatan setiap kapal atau nakhoda yang hendak melintas harus melapor ke VTS Batam, karena mereka akan melintasi perairan Indonesia sebelum sampai Singapura atau sebaliknya.

“Faktanya tak semua kapal melapor ke VTS Batam. Lebih parah lagi, sebagian kapal justru tak menghidupkan AIS, sehingga tak terdeteksi di VTS Batam. Meski diakui, pergerakan kapal tersebut tetap terpantau radar di Batam,” papar Bambang.

Bambang Pur-2

RAMBU SUAR BATU BERHENTI
Masalah krusial lain dan sering menimpa salah satu sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP) Disnav Tanjung Pinang adalah rambu Batu Berhenti di Selatan Singapura. Batu Berhenti adalah salah satu dari puluhan rambu navigasi yang dikelola dan dioperasikan Disnav Tanjungpinang.

“Rambu Batu Berhenti itu paling sering hilang atau rusak akibat ditabrak kapal atau terseret tongkang yang melintasi di Selat Singapura. Padahal, satu rambu nilainya mencapai Rp500 juta. Belum termasuk biaya, tenaga dan waktu pemasangannya kembali,” cetus Bambang.

2016-04-24 15.27.47

Parahnya lagi, menurut Bambang, jika tidak ketahuan kapal yang menabrak mereka langsung lari saja. “Disnav Tanjung Pinang yang rugi, dan harus segera mengganti dengan biaya sangat besar,” tutur Bambang.

Rambu Batu Berhenti itu paling sering rusak atau hilang atau hanyut terbawa arus air laut sampai ke Singapura. Kadang kurang dari sebulan diganti, sudah rusak atau hilang lagi. Padahal, jika tak berfungsi apalagi sampai hilang, banyak negara seperti Jepang, Korea dan Singapura akan komplain.

“Rambu Batu Berhenti itu sangat vital bagi keselamatan pelayaran di Selat Singapura. Banyak kapal asal Jepang yang melintasi alur Selat Singapura,” kilah Bambang didampingi stafnya Budhi dan M.Thalib itu.

Oleh karena itu, tambah Bambang, Disnas Tanjung Pinang terus mengefektifkan pengawasan dan pemeliharaan rambu Batu Berhenti itu. Alat bantu navigasi tersebut harus tetap berfungsi optimal.

“Termasuk bekerja sama dengan Singapura, demi keselamatan pelayaran dan pelayanan terbaik ke masyarakat pelayaran dunia,” tegas Bambang. (helmi)

loading...