Angkasa Pura 2

Banyak Kepala Daerah Tak Perhatikan Angkutan Umum

KoridorRabu, 27 April 2016
angkutan umum massal

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sejak era reformasi 1998, para kepala daerah di Indonesia sudah tidak memperhatikan kondisi transportasi umum yang makin buruk dan menuju kepunahan. Banyak ibukota provinsi tak mempunyai angkutan umum, kalaupun ada kondisinya memprihatinkan.

“Kepala daerah hanya ingat transportasi umum tiap lima tahun sekali, hanya untuk tempel foto buat berkuasa lagi. Sangat langka menemukan kepala daerah peduli transportasi umum,” kritik Ketua MTI Jawa Tengah Djoko Setijowarno kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Rabu (27/4/2016).

Dikatakan, jumlah pemudik dengan sepeda motor diprediksi masih terus meningkat tak tertahankan. Padahal sangat riskan memicu kecelakaan selain menambah kemacetan lalu lintas di jalan raya.

“Walau pemerintah telah berupaya dengan segala daya untuk meningktkan mudik gratis sepeda motor dengan trub, kapal laut dan kereta untuk mengurangi angka kecelakaan,” kilah Djoko.

Pemudik sepeda motor merupakan korban tidak jelasnya kebijakan transportasi nasional. “Melimpahnya sepeda motor di jalan juga akibat kebijakan sepeda motor yang tak berpihak pada keselamatan,” papar Djoko.

Keinginan pemudik menggunakan sepeda motor disebabkan langkanya angkutan umum di desa-desa. Selain itu, biaya mudik memakai sepeda motor juga lebih murah 40% daripada naik bus.

Tidak Sepotong-Sepotong

Maraknya pemudik sepeda motor menggambarkan terbatasnya transportasi umum yang aman dan ekonomis. Penanganan pemudik sepeda motor tidak boleh sepotong-sepotong.

“Selain itu juga sediakan transportasi umum, yang baik. Pemerintah juga menangani masalah urbanisasi dari desa ke kota,” kilah Djoko.

Perlu terobosan untuk mengatasi kemacetan yang diprediksi masih akan mendera pemudik lebaran thn ini. “Penanganan mudik mesti ditangani dengan rencana matang,” terang Djoko.

Pasar tumpah dan perlintasan sebidang kereta api (KA) dan jalan raya masih menjadi sumbatan kemacetan. “Juga keluar tol di Brebes Timur karena tidak dibuat interchange,” papar Djoko menambahkan.

Penyediaan sarana bus, kapal dan kereta perlu ditambah. Kondisi terminal yg nyaman serta sistem pembelian tkt bus spt beli tkt KA perlu dipikirkan.

Memaksa kepala daerah untuk segera memperbaiki transportasi umun di daerahnya masih perlu digenjot lagi dengan berbagai tawaran skema subsidi.

Semoga Lebaran tahun ini lebih baik dibandingkan tahun yang lalu dengan indikator salah satunya terjadi penurunan angka kecelakaan. “Selanjutnya pendek waktu perjalanan, tersedianya moda lanjutan di terminal, stasiun, pelabuhan dan bandara yg berada di daerah,” urai Djoko.

Jika tak ada perubahan dan peningkatan pelayanan transportasi umum yang baik dan memadahi. Selain itu juga dan meningkatkan kapasitas infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara serta kereta api yang lebih baik.

“Jangan impikan rasa nyaman, dapat selamat dan aman sampai tujuan sudah bersyukur sampai kampung halaman,” tegas Djoko.(helmi)

loading...