Angkasa Pura 2

STTD: Pemerintah Harus Lengkapi Rambu-Rambu Di Daerah Rawan Kecelakaan

Koridor SDMMinggu, 8 Mei 2016
Rambu2 berbahaya

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pakar transportasi dari Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Drs.Dadang Mulyadi, M.Sc mengatakan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda) perlu melengkapi daerah rawan kecelakaan dengan rambu-rambu lalu lintas yang cukup. Bila perlu dengan melibatkan pihak terkait untuk mencegah terjadinya kecelakaan tersebut.

“Kasus kecelakaan dan korban meninggal di jalan raya harus diturunkan. Banyak kasus kecelakaan terjadi di jalan yang rawan kecelakaan kecelakaan tapi tidak ada atau minim rambu-rambu lalu lintas di lokasi tersebut,” kata Dadang menjawab BeritaTrans.com di Jakarta, Sabtu (7/5/2016).

Pemasangan rambu-rambu itu menjadi bagian dari tupoksi Pemerintah, sekaligus upaya muntuk menurunkan angka kecelakaan dan korban meninggal di jalan raya. “Tugas Pemerintah terutama Kementerian Perhubungan adalah menjaga dan meningkatkan keselamatan transportasi termasuk di jalan raya,” kata Dadang lagi.

Dari hasil kunjungan ke lapangan, terutama saat tugas Piket Sabtu-Minggu (Pisami), menurut Dadang, banyak jalan yang rawan terjadi kecelakaan tidak dilengkapi rambu-rambu keselamatan yang cukup. “Kondisi tersebut perlu segera ditata dan diperbaiki, guna mewujudkan keselamatan transportasi jalan yang lebih tinggi,” jelas Dadang.

Banyak kasus kecelakaan terutama di daerah rawan seperti tikungan tajam, tanjakan atau turunan tajam tanpa dilengkapi rambu-rambu lalu lintas. Kondisi tersebut makin parah jika penerangan jalan juga minim.

“Kondisi tersebut akan sangat berbahaya bagi pengguna jalan yang baru pertama kali melintas. Banyak daerah rawan masih terus memakan korban jiwa, terutama saat arus lalu lintas padat,” papar Dadang.

Selanjutnya, pembangunan infrastruktur jalan, juga harus ditingkatkan. Jalan harus dibangun sesuai kelas dan kualitasnya serta memenuhi spek yang ditentukan. “Dengan begitu, kasus-kasus kecelakaan di jalan raya bisa ditekan bahkan menjadi nol atau zero accident,” kilah Dadang lagi.

“Data WHO menyebutkan, korban kecelakaan di jalan raya masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Data Mabes Polri, setiap tahun lebih dari 30.000 orang meninggal sia-sia di jalan raya. Kasus dan jumlah korban meninggal itu harus terus ditekan,” terang Dadang.

Dia menambahkan, salah satunya upaya meningkatkan keselamatan di jalan raya adalah dengan melengkapi rambu-rambu, seperti batas kecepatan, tikungan tajam, perlintasan sebidang kereta api (KA) dan lainnya. Dengan begitu, bisa memberikan peringatan dini ke masyarakat sekaligus mecegah terjadinya kecelakaan yang menelan korban jiwa tersebut,” tegas Dadang.(helmi)

loading...