Angkasa Pura 2

BPTJ Gelar FGD Penyusunan Rencana Umum Pelayanan Angkutan Permukiman

KoridorKamis, 12 Mei 2016
IMG_20160512_095510

JAKARTA (beritatrans.com) – Satu hari setelah peresmian penggunaan kantor oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada Rabu (11/5/2016), Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) langsung menggelar Focus Group Discussion (FGD). FGD pertama yang dilaksanakan di kantor barunya tersebut membahas soal penyusunan rencana umum pelayanan angkutan permukiman.

“Kami mencoba menyusun kembali pola pelayanan angkutan permukiman sebagai satu kesatuan jaringan transportasi umum yang sekarang ini banyak tumbuh di perkotaan seiring dengan pertumbuhan perumahan,” kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPTJ Suharto yang sekaligus berperan sebagai moderator.

Selain Suharto, hadir juga dalam FGD tersebut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ Pandu Yunianto, ATD. M.Eng. SC, Direktur Prasarana Edy Nursalam, SE, ATD. MsTr, Masyarakat Transportasi Indonesia, DPP Organda, Akademisi, Pengamat, para Kepala Dinas Perhubungan Jabodetabek, dan para pengusaha transportasi serta stake holder lainnya.

Suharto mengatakan, selain untuk menata ulang angkutan permukiman, FGD itu juga sebagai bagian dari kerja besar BPTJ yaitu membuat Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) yang ditargetkan sudah harus selesai tahun ini juga.

“RITJ ini akan di jadikan Peraturan Presiden dan menjadi acuan utama kerja BPTJ,” kata Harto.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan BPTJ Pandu Yunianto, ATD,M.Eng. SC, mengatakan, filosofi angkutan permukiman sejatinya adalah agar para penghuni perumahan yang kelas menengah ke atas mau menggunakan angkutan umum. Tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi.

“Sehingga dampaknya dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas,” kata Pandu.

Makanya, lanjut Pandu, para pengembang menangkap peluang ini dengan menyediakan angkutan permukiman. Bahkan dijadikan oleh mareka sebagai salah satu alat untuk menarik minat masyarakat membeli perumahannya. Sehingga kemudian muncul shutle-shutle bus.

“Jadi filosofi utamanya untuk memindahkan penumpang dari angkutan pribadi ke angkutan umum. Makanya jangan sampai ada angkutan permukiman yang digunakan bukan oleh penghuni perumahan,” katanya.

Dalam FGD inilah dicari masukan dari berbagai pihak termasuk para akademisi dan pelaku usaha agar tercipta sebuah pola jaringan maupun sarana dan prasarana angkutan permukiman yang lebih ideal. (aliy)