Angkasa Pura 2

STTD: Taruna Senior Harus Magang Di Operator Transportasi Atau UPT Transportasi Darat

Koridor SDMRabu, 22 Juni 2016
Taruna STTD

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kampus Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) menerapkan kebijakan baru bagi taruna senior yang akan segera lulus dan siap memasuki dunia kerja. “Mereka harus magang di operator transportasi atau unit pelaksana teknis (UPT) transportasi darat sesuai program studi (prodi) masing-masing. Kini ada ratusan taruna STTD yang tengah menjalani proses magang di berbagai daerah di Tanah air,” kata Kabag Administrasi Akademik dan Ketarunaan STTD Drs. Muh. Nurhadi, MM, MT saat dikonfirmasi BeritaTrans.com di Jakarta, Rabu (22/6/2016).

Masa magang itu, lanjut dia, hendaknya dijadikan media pembelajaran dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Para taruna senior misalnya dari program studi (prodi) Transportasi Darat bisa magang di perusahaan transportasi, seperti perusahaan otobus (PO) AKAP atau AKDP, BUMN/ BUMD. Sedang prodik LLAJ bisa magang di Dinas Perhubungan di berbagai daerah. Sementara, prodi PKB bisa langsung magang di jembatan timbang atau UPT Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) di berbagai daerah di Indonesia.

“Taruna STTD diberikan bekal yang cukup, baik terori di kampus atau praktek di lapangan saat magang tersebut. Harus diakui, antara pengetahuan teori di kampus tak semuanya sama atau bisa diaplikasikan di masyarakat. Ragam masalah yang dihadapi juga berbeda-beda di setiap daerah sesuai kondisi geografis serta moda transportasi yang ditangani,” jelas Nurhadi lagi.

Idealnya, menurut pejabat STTD itu, setiap taruna apapun prodi dan sekolah yang ditekuni jangan langsung ditarik ke pusat baik sebagai regulator atau dosen-dosen di kampus. “Biarkan mereka kerja dulu di lapangan dan menimba ilmu serta pengalaman selama kerja di daerah. Bagi mereka yang berhasil, bisa ditarik dan disekolahkan kembali untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuannya,” papar Nurhadi.

Setiap aparatur, apalagi calon-calon pemimpin Kementerian Perhubungan mendatang harus mumpuni. Mereka menguasai secara teori, tapi juga ditambah dengan pengalaman praktis di lapangan.

“Semua itu hanya bisa didapat dan diperoleh setiap aparatur Kemenhub jika mereka pernah kerja di lapangan bahkan sudah mengalami penugasan di berbagai tempat berbeda dengan permasalahan yang tidak sama pula,” kilah Nurhadi.

Kepiawainya dan profesionalisme seorang perwira transportasi, tambah Nurhadi, akan bisa dilihat dari kinerja dan kemampuannya mengatasi masalah dan tugas di lapangan. Sangat naib seorang pejabat

“Mampu tidak mereka menyelesaikan tugas dengan baik? Bagaimana solusi dan inovasi yang dilakukan untuk menjawab tantangan di lapangan tersebut? Semua itu bisa dinilai dan menjadi bahan pertimbangan pimpinan untuk promosi dan peningkatan jenjang karier mereka sebagai aparatur pemerintah atau professional di satu perusahaan transportasi,” tegas alumni STTD itu lagi.(helmi)