Angkasa Pura 2

Operasikan Residual Fluid Kilang Cilacap dan TPPI Tuban, Pertamina Hemat Impor Premium dan Diesel Sampai 44%

Ekonomi & Bisnis Energi KoridorRabu, 29 Juni 2016
pertamina

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Direktur Pengolahan Pertamina Rahmad Hardadi mengungkapkan pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracker Cilacap dan Kilang TPPI memberikan kontribusi terbesar dengan nilai US$131 juta per bulan. Nilai tambah tersebut bersumber dari pengurangan impor Premium sekitar 30-42% dan pengurangan impor Diesel sebanyak 44%.

“PT Pertamina (Persero) meraup nilai tambah senilai US$174,11 juta per bulan dari berbagai program inisiatif bisnis pengolahan dalam kurun waktu 2015-2016,” kata Rahmad Hardadi di Jakarta, Selasa (28/6/2016).

Dikatakan, nilai tambah signifikan juga bersumber dari tidak adanya lagi impor HOMC dari semula sekitar 400 ribu barel per bulan. Nilai tambah dari penghilangan impor HOMC tersebut mencapai sekitar US$15 juta per bulan. “Pertamina juga telah menghentikan ekspor LSWR dan Naphta untuk diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi di kilang dalam negeri, termasuk di antaranya memproduksi HOMC, Solar, dan Propylene,” jelas Rahmad lagi.

“Sebelumnya, kelebihan naphta diekspor dengan nilai yang rendah, yaitu MOPS – US$6 per barel dengan volume ekspor mencapai 400-500 ribu barel per bulan. Begitu kami hentikan ekspor dan kami proses di dalam negeri, harga Naphta langsung melonjak menjadi MOPS + US$3,3 per barel sehingga seolah-olah kami mendapatkan nilai tambah sebesar US$9,3 per barel dari Naphta saja,” kata Rahmad Hardadi.

Selain itu, sentralisasi pengadaan melalui manajemen kategori teroptimasi menghasilkan penghematan sebesar US$10,8 juta per bulan. Pertamina, katanya, telah melakukan ekspor kerosene menyusul kesuksesan program konversi Minyak Tanah ke Elpiji dengan nilai tambah bagi perusahaan sebesar US$7,1 juta per bulan.

“Kami juga memproduksi Pertalite, Pertamax Series, dan Dexlite dengan nilai tambah sekitar US$3,12 juta per bulan,” ungkap Rahmad dalam siaran pers kepada BeritaTrans.com.

Selain memberikan nilai tambah melalui inisiatif-inisiatif, lanjut Rahmad, Pertamina juga berhasil melakukan akselerasi berbagai proyek, seperti RFCC Cilacap dari semula diperkirakan baru beroperasi pada April 2016 menjadi September 2015, dan PLBC Cilacap yang telah dua tahun tertunda, proses lelang tuntas dalam waktu 4 bulan dengan pengurangan biaya 16% dari estimasi awal.

“Pertamina juga melakukan percepatan untuk reaktivasi unit proses calciner di Kilang Dumai yang sudah 22 tahun berhenti operasi,” tegas Rahmad.(helmi)

loading...