Angkasa Pura 2

Pakar: Rekayasa Lalin Harus Dilakukan Dari Hulu Sampai Hilir

KoridorSelasa, 12 Juli 2016
Djoko setijo

SEMARANG (Beritatrans.com) – Pengembangan dan pengelolaan demand transportasi dan pengguna jasa khususnya lintas pantura Jawa tidak hanya dilakukan di asal pemberangkatan seperti di terminal Jabodetabek misalnya.

“Rekayasa lalu lintas (lalin) ini harus dilakukan dari hulu hingga hilir,” kata pakar transportasi MTI Jawa Tengah Djoko Setijowarno saat dikonfirmasi Beritatrans.com di Semarang, Selasa (12/7/2016).

Dikatakan, kelamahan selama ini adalah pengelolaan transportasi lebih banyak di hilir, yakni Pemda. Sementara, di hulunya sering terabaikan, dan baru teriak-teriak jika terjadi kasus seperti kemacetan Brexit misalnya.

“Sudah 10 tahun lebih dibenahi transportasi umum di daerah dengan Program Bus Transit, yaitu bus rapit transit (BRT). Tapi, tak satupun yang hasilnya cukup menyamankan pengguna,” jelas Djoko.

Buktinya, papar dia, banyak kota yang sudah ada BRT belum dapat atasi kemacetan. Salah satu alasan pemudik membawa kendaraan pribadi karena tidak tersedia transportasi umum di daerahnya.

Jika kepala daerah tidak peduli terhadap transportasi umum, pemerintah pusat dapat ambil alih. “Sekitar 95% lebih kepala daerah tidak peduli dengan penataan transportasi umum di wilayahnya,” sebut Djoko.

Kepedulian daerah terhadap transportasi dapat dilihat dari APBD yang dialokasikan ke Dishub. “Rata rata kurang 1%, hanya dua Pemda yang di atas 3%, yakni Kota Surakarta dan Kota Jakarta,” tandas Djoko.(helmi)