Angkasa Pura 2

Didera Stroke, Mantan Penjaga Menara Suar Distrik Navigasi Surabaya Itu Tetap Paripurnakan Pengabdian

Dermaga SDMKamis, 14 Juli 2016
2016-07-14 11.08.30

SURABAYA (BeritaTrans.com) – Selama 10 tahun bekerja di tengah kesunyian dalam tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran. Selama itu pula dia migrasi tugas dari satu pulau ke pulau lain. Dari kesunyian ke kesunyian lain.

Didik Nurhandayadi nama abdi negara tersebut. Sejak tahun 1980, dia menjadi pegawai Distrik Navigasi Kelas I Surabaya Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

“Awalnya saya ditempatkan di bengkel navigasi, lalu ditugaskan menjadi penjaga menara suar selama 10 tahun,” ungkap Didik kepada BeritaTrans.com dan tabloid mingguan BeritaTrans.

Seluruh menara suar pernah dijelajahi dan dijaganya. Dari Pulau Nyamuk/Jamuang, Bawean, Sapudi dan Batu Putih, Tanjung hingga Massalembo. Sebagian dari pulau-pulau itu merupakan kawasan tanpa penduduk dan menjadi sarang nyamuk serta binatang buas.

Bersama empat pegawai lainnya, Didik setiap hari menjaga lampu menara suar agar tetap menyala di malam hari sehingga menjadi navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di sekitarnya. “Kawan-kawan sesama penjaga menara suar itu ya menjadi kawan sehari-hari,” ujarnya sambil tersenyum.

Sakit dan duka harus ditanggung dan ditanggulangi bersama. “Kalau hanya sepi ya itu biasa. Makanan sehari-hari. Kalau sakit ya memang repot tapi tidak boleh cengeng. Tanggung sama-sama dan obati sama-sama,” cetus penghuni Asrama Ikan Duyung Ditjen Perhubungan Laut, Kel. Perak Barat, Kec. Krembangan, Surabaya, itu.

Setelah 10 tahun menjadi penghuni dan penjaga menara suar, dia ditugaskan di kantor Distrik Navigasi Kelas I Surabaya. Namun jelang berakhirnya pengabdian sebagai pegawai negeri sipil,ayah dari 2 puteri ini terserang penyakit stroke ringan.

Namun penyakit yang mendera dirinya itu tak lantas menyebabkan Didik surut semangat bekerja. Pegawai ini tidak pernah bolos kerja. “Karena saya sudah biasa hidup ditempa dengan semangat membaja. Tidak boleh cengeng,” tegasnya.

Bulan Juli 2016 ini menjadi akhir dari pengabdiannya kepada negara. Dan dia tetap bekerja sambil ikut mengabdikan diri mengurus musholla di kantornya.

Kamis (14/7/2016), menjadi hari paling berkesan dalam hidupnya. Dia dilepas dengan manis oleh rekan sejawat dan pimpinannya. Bahkan dia dianugerahi cincin emas sebagai tali kasih.

Cincin yang disematkan oleh Kepala Distrik Navigasi Kelas I Surabaya I Nyoman Sukayadnya itu melengkapi hadiah yang didapatnya setelah sebelumnya koperasi pegawai menganugerahkannya ibadah umroh.

“Saya berterima kasih kepada Pak Jonan karena telah memberikan sekaligus menaikkan tunjangan kinerja. Saya berterima kasih kepad Pak Tonny Budiarto, yang pernah menjadi Kepala Distrik Navigasi Surabaya dan sekarang menjadi Dirjen Perhubungan Laut. Saya berterima kasih kepada Bapak Direktur Navigasi Pak Bambang, kepada Pak Nyoman Sukayadnya, atasan dan semua kawan-kawan kantor,” tutur lirih dengan mata berkaca-kaca. (awe).

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari