Angkasa Pura 2

Membangun Angkutan Umum Lokal Dan Meningkatkan Keselamatan Transportasi

KoridorSenin, 25 Juli 2016
Angkot_Papua_edit

JAKARTA (Beritatrans.com) – Pembangunan jalan lingkar kota di beberapa daerah, mengurangi akses pelayanan kepada penumpang. Meski tersedia terminal, tapi tidak dilengkapi akses transportasi umum lokalnya. Untuk mengurangi kemacetan memang oke, tapi jalur lingkar tersebut belum semua dilengkapi angkutan umum yang baik dan terintegrasi dengan angkutan lainnya.

“Kondisi tersebut membuat kinerja dan pelayanan angkutan umum tidak maksimal, karena orang enggan naik kendaraan umum. Masalahnya jelas, kendati masuk terminal tidak ada jaminan angkutan lokal menuju ke tempat tujuan,” kata pakar transportasi Unika Soegijopranoto Semarang, Djoko Setijowarno kepada beritatrans.com di Jakarta, Senin (25/7/2016).

Bagaimanapun baiknya membangun angkutan umum antar kota antar provinsi (AKAP) bahkan kereta api atau pesawat terbang dan kapal laut, tetap harus didukung angkutan lokal yang baik dan memadahi. “Orang turun dari bus AKAP, pesawat dan kereta api bisa langsung menuju ke alamat tujuan, karena ada angkutan umum lokal yang baik pula,” terang Djoko.

Selain itu, menurut Djoko, masih ada diskriminasi bunga kredit perbankan untuk pinjaman pembelian kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Kendaraan umum lebih tinggi bunganya dibandingkan kendaraan pribadi. Kondisi tersebut mestinya terbalik jika pemerintah pro angkutan umum.

Beberapa hal yang harus dapat dijadikan pembelajaran atas musibah kecelakaan transportasi umum. “Adalah kewajiban Pemerintah untuk menyediakan dan menjamin sarana dan prasarana transportasi serta penyelggaraan kegiatan transportasi yang aman, nyaman, lancar dan menyenangkan bagi pengguna jasa,” papar Djoko lagi.

Banyak Penyebab Kecelakaan

Setiap kecelakaan transportasi pada kenyataannya selalu melibatkan beberapa faktor, seperti perangkat lunak, perangkat keras, lingkungan alam, dan manusia. “kasus-kasus kecelakaan biasanya merupakan akumulasi berbagai faktor itu.

“Meski data Korp Lantas Polri menyebutkan, faktor manusia atau human error masih dominan dalam setiap aksus kecelakaan,” sebut Djoko.

Dikatakan, jaminan terhadap penyelenggaraan angkutan yang aman, nyaman dan menyenangkan sangat tergantung dari kepekaan dan kepedulian atau pelaksana atau pelaku dan penentu kebijakan (regulator) terhadap situasi yang terjadi di lapangan

Menurut Djoko, kecelakaan lalu lintas tidak terjadi secara kebetulan dan mendadak, melainkan melalui proses akumulasi dari kegagalan faktor-faktor perangkat lunak, perangkat keras, lingkungan alam & manusia yang pada mulanya bersifat laten.

“Kemudian dari banyak faktor itu, berkembang menjadi kegagalan aktif dan berakhir dengan kerugian atas harta benda dan jiwa manusia,” kilah Djoko.(helmi)