Angkasa Pura 2

Upah Buruh Tangani Kontainer Saatnya Dengan Sistem Borongan

DermagaSenin, 25 Juli 2016
20160725_165825-1-1

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sistem upah buruh yang menangani petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok sudah saatnya diubah dari sistem upah harian menjadi sistem upah borongan, kata General Manager (GM) Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Priok, Sutejo, Senin (25/7/2016) sore

Dia mengatakan dengan kehadiran alat bongkar muat canggih sekarang ini pendapatan buruh sangat jomplang dengan upah layanan bongkar muat yang diterima Perusahaan Bongkar Muat (PBM).

Contohnya, Keputusan Direksi Pelindo II No HK 568/7/6/2/PI.II-16 tertanggal 7 Juni 2016 ditetapkan tarif layanan jasa bongkar muat petikemas (isi) antar pulau ukuran 20 kaki Rp 650.000/bok dan 40 kaki Rp975.000/bok. Itu uang yang diterima PBM dari pemilik barang.

Sementara dengan sistem upah harian, ujar Sutejo, buruh hanya menerima upah Rp11.529/bok. Angka ini didapat dari hitungan setiap satu alat bongkar muat atau container crane (CC) mampu membongkar 25 bok/ jam atau untuk satu shift kerja buruh (7 jam) membongkar 7×25 bok =175 bok kontainer.

Di sisi lain upah yang diterima satu regu buruh /shift termasuk mandor hanya Rp 164.000(upah harian) × 11 buruh =Rp 1.804.000 plus upah satu mandor Rp 213.000 = 2.017.200. Kalau dibagi dengan jumlah bongkar muat kontainer 175 / regu/shift berarti setiap bok hanya dibayar Rp 11.529.

“Kalau pun ditambah kewajiban PBM bayar uang kesejahteraan buruh Rp 595.401 /regu/shift upah buruh hanya 14.929/bok.

“Kita paham PBM selain membayar upah buruh juga punya kewajiban lain. Tapi kita harapkan jangan terlalu jomplang antara tarif bongkar muat yang mereka dapat dengan upah buruh. Minimal sama dengan upah borong di New Priok Container Terminal One (NPCT 1) Rp 28.000/bok,” tambah Sutejo.
(wilam)

loading...