Angkasa Pura 2

Eksotisnya Ngaben 15 Mendiang Di Banjar Desa Pande Tabanan

Destinasi FigurKamis, 28 Juli 2016
IMG-20160728-WA0015

TABANAN (BeritaTrans.com) – Pemandangan eksotis dipertontonkan dalam ritual ngaben, tak tanggung-tanggung digelar untuk 15 mendiang, Kamis (28/7/2016).

Ritual berbentuk upacara dan upakara di Banjar Desa Pande, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Bali, membuktikan masyarakat Pulau Dewata selalu saja mengeksplorasi sekaligus mempertahankan budaya yang melekat erat dengan agama.

Kekayaan budaya tersebut yang terus membetot turis mancanegara dan nasional untuk menikmati Bali.

IMG-20160728-WA0046

Ngaben di Banjar Desa Pande, yang diinisiasi dan digerakkan keluarga I Nyoman Sukayadnya memang menjadi begitu meriah karena ada 15 keluarga yang ikut dalam ritual tersebut. Seluruh warga desa dan undangan tumplek selama ritual yang digelar selama 14 hari yakni 17-31 Juli 2016.

Kepada BeritaTrans.com dan tabloid mingguan BeritaTrans, Nyoman Sukayadnya mengemukakan ngaben bermula dari keinginan keluarga besar almarhum I Nyoman Lengoh untuk membayar utang kepada ibunda, Ni Nyoman Mintek. Utang terbesar adalah menggelar ngaben mendiang.

IMG-20160728-WA0058

Dia menjelaskan upacara ngaben di Banjar Desa Pande sebelumnya dilaksanakan tahun 1927. Saat itu, ayahandanya, I Nyoman Lengoh, menggelar ngaben untuk istri pertama dan anaknya.

“Saat ini tahun 2016, maka berarti setelah 89 tahun berlalu, sekarang digelar lagi upacara ngaben. Upacara ini memang terbilang menyerap dana besar,” ucap pria yang pernah bekerja sebagai penjaga menara suar tersebut.

IMG-20160728-WA0020

Mempertimbangkan bahwa ritual ngaben akan menyerap dana besar, dia mengemukakan maka mengajak tetangga yang belum sempat untuk menyertakan keluarga lain yang merupakan tetangga di satu desa.

“Kami tegaskan bahwa tetangga tidak perlu pusing mengenai biaya karena ditanggung oleh keluarga besar kami. Ternyata responnya luar biasa. Ada 12 keluarga yang antusias ikut. Jadi dari keluarga kami ada tiga mendiang, ditambah dari tetangga maka total jumlahnya ada 15 mendiang,” ungkap Nyoman.

Hanya dipersiapkan selama dua bulan, prosesi ngaben bisa digelar. Walaupun hanya simbolis upacara pembakarannya, namun tetap melalui rangkaian ritual sebagaimana mestinya.

“Niat baik kami ternyata didukung sahabat, pamong dan seluruh warga desa. Banyak yang menyumbang, sebagian besar berupa materi dan fasilitas pendukung ritual, termasuk gamelan dan nayaga, penari, hingga kebutuhan logistik. Jadinya malah gotong-royong berswadaya,” jelasnya.

IMG_20160728_193713

Swasaya itu yang memang terbilang strategis untuk menutupi biaya besar mengingat padatnya upacara dan upakara. Contohnya, saat Kamis (28/7/2016) saja terdapat empat kali penampilan gamelan dan nayaga berbeda.

Belum lagi menghadirkan begitu banyak penari, termasuk sembilan penari Rejangdewo. Tarian ini dipersembahkan untuk menyambut para dewa yang datang.

IMG_20160728_193720

Perbedaan tarian dan gamelan itu bukan sekadar performansi menjadi monoton, tetapi juga karena kebutuhan upacara, yang juga menghadirkan sapi betina tersebut.

“Karena masing-masing gamelan menampilkan sajian berbeda, yang di antaranya ada gamelan sakral dengan nayaga khusus,” ujar Nyoman, yang merupakan Kepala Distrik Navigasi Surabaya Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan itu.

2016-07-28 14.56.22

SIMBOLIS
Nyoman mengemukakan upacara ngaben hanya simbolis. Jasad mendiang tidak dibakar, tetapi diwakili oleh tanah di kuburan atau hal-hal lain.

IMG-20160729-WA0013

“Intinya adalah mengantar ruh mendiang ke surga. Ini melalui berbagai prosesi, termasuk melarungkan ruh ke lautan, lalu memanggil kembali untuk diupacarakan lagi di sejumlah pura termasuk Pura Besakih. Lalu membawa kembali ruh ke tempat yang memang menjadi jalan ke surga,” jelasnya. (awe).

loading...