Angkasa Pura 2

YLKI: Kebiasaan Ke Sawah atau Ke Pasar Naik Sepeda Motor Atau Mobil “Kurang Sehat”

Another News KoridorJumat, 29 Juli 2016
Tulus_Abadi_YLKI

JAKARTA (Beritatrans.com) – Gaya hidup dan kebiasaan masyarakat Indonesia termasuk kaum pedagang dan petani Indonesia berdampak negatif. Kalau dulu, banyak petani ke sawah atau ladang dengan berjalan kaki dan membawa hasil panennya dengan jalan kaki pula.

“Itu sebenarnya kebiasaan sehat dan baik untuk masa depan mereka sendiri. Kini petani di desa sekalipun pergi ke sawah dengan naik sepeda motor dan mengangkut hasil panennya dengan mobil. Berbeda dengan dulu semua diangkut secara manual justru membuat badan mereka sehat dan kuat,” kata Ketua Harian YLKI Tulus Abadi saat dihubungi Beritatrans.com di Jakarta, Jumat (29/7/2016).

Salah satu pemicu utama penyakit utama yang dominan saat ini, seperti stroke, jantung koroner, bahkan diabet, karena tingginya konsumsi rokok. Tingginya konsumsi rokok, di tengah upaya masih rendahnya kampanye dan perilaku hidup sehat, akan meningkatkan jumlah penyakit tidak menular secara signifikan. “Kondisi tersebut bisa diminimalisir jika masyarakat kita banyak berolah raga, seperti kerja di sawah atau ladang, jalan kaki, lari dan lainnya,” sebut Tulus.

Akibatnya, menurut dia, tingkat kesehatan masyarakat Indonesia termasuk petani dan pedagang kecil jadi menurun. “Kalau dulu penyakit tidak menular seperti jantung koroner, diabetes dan stroke hanya dialami orang-orang kaya yang jarang olah raga fisik. Kini, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI bahkan WHO menyebutkan banyak petani di desa mengidap tiga jenis penyakit tersebut,” jelas Tulus.

Gaya hidup yang enggan berolah raga dan banyak menggunakan kendaraan untuk beraktifitas seperti pergi ke sawah, ke pasar bahkan anak-anak sekolah yang enggan jalan kaki sebenarnya “kurang sehat”. “Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus diadopsi untuk kehidupan ini. Tapi, usahakan jangan sampai mengganggu kebiasaan hidup sehat masyarakat Indonesia,” papar Tulus.

Kebiasaan Buruk Merokok

Kondisi tersebut makin parah dengan kebiasaan warga masyarakat yang mengonsumsi rokok. Data BPS membuktikan dengan sangat kuat, bahwa rumah tangga miskin di Indonesia mendedikasikan pendapatannya nomor dua untuk konsumsi rokok (12,4 persen) dari pendapatannya per bulan. Nomor dua setelah konsumsi beras. Masih menurut data BPS, pantas jika konsumsi rokok menjadi pemicu utama tingkat kemiskinan paling tinggi di Indonesia, setelah harga beras.

Oleh karena itu, menurut YLKI mencurigai Rancangan UU (RUU) Pertembakauan, adalah agenda terselubung dari kepentingan asing untuk mengukuhkan Indonesia sebagai negara terakhir yang akan dijadikan target pemasarannya. Mengingat jumlah penduduk dan jumlah perokok di Indonesia yang sangat besar, dan dengan pertumbuhan perokok tercepat dan tertinggi di dunia, 14 persen per tahun.

Dan, saat ini 188 negara di dunia telah meregulasi dan membatasi konsumsi, penjualan, promosi dan iklan rokok dengan sangat ketat. Hanya Indonesia yang sangat melonggarkan konsumsi, penjualan dan promosi rokok. Dan RUU Pertembakauan menjadi alat yang paling efektif untuk memudahkan akses dan konsumsi rokok di Indonesia;

Begitu cepatnya pembahasan dan rencana pengesahan RUU Pertembakauan, patut diduga dengan kuat RUU Pertembakauan adalah produk RUU yang transaksional, koruptif dan kolutif. YLKI meminta KPK mengawasi dan menyelidiki proses pembahasan RUU Pertembakaua ini,” tandas Tulus.

“YLKI meminta Presiden Joko Widodo untuk MENOLAK RUU Pertembakauan, karena sangat tidak sejalan dengan Program Nawa Cita; bahkan kontra produktif dengan NAWA Cita. Karena RUU Pertembakauan akan memiskinkan masyarakat Indonesia, membuat program finansial JKN dan BPS jebol, dan menjadi bak sampah raksasa dari industri rokok nasional dan multinasional,” tegas Tulus.(helmi)