Angkasa Pura 2

Menteri Susi Temukan 56 Kapal Eks Asing Berubah Wujud di Benoa

Kelautan & PerikananKamis, 4 Agustus 2016
Susi_Pudjiastuti_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menemukan sedikitnya 56 kapal eks asing beroperasi dengan wujud kapal lokal.

Temuan tersebut hasil sidak yang dilakukan Menteri Susi bersama Satgas 115 di Pelabuhan Benoa, Bali pada Selasa (2/8/2016) lalu.

“Sidak ini dilakukan berdasarkan hasil kajian yang sudah diselidiki dan diinvestigasi awal,” kata Menteri Susi, Kamis (4/8/2016).

Berdasarkan investigasi Satgas 115 ternyata di Pelabuhan Benoa banyak ditemukan kapal eks asing yang seharusnya pulang ke negaranya untuk melakukan deregistrasi, namun malah memodifikasi kapal dan kembali ke laut seolah-olah menjadi kapal Indonesia.

Susi menjelaskan, sebelum moratorium tercatat sekitar 1.000 kapal yang beroperasi dari Pelabuhan Umum Benoa, termasuk sebagian diantaranya merupakan kapal eks asing.

Dari hasil Analisis dan Evaluasi Kapal Perikanan yang Pembangunannya dilakukan di Luar Negeri (Anev Kapal Eks Asing), per tanggal 3 November 2014, terdapat 152 kapal eks-asing yang dimiliki 62 pemilik kapal, yang beroperasi di pelabuhan tersebut.

Selama moratorium, kapal-kapal tersebut dilarang melakukan kegiatan usaha penangkapan ikan, sehingga harus tetap berada di pelabuhan. Namun ternyata, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh Satker PSDKP Benoa pada Desember 2015, dari 152 kapal eks asing, yang masih berada di Benoa, hanya tinggal 119 kapal. Akibat lemahnya pengawasan, selama satu tahun moratorium, terdapat 33 kapal telah keluar dari Pelabuhan Benoa.

Menindaklanjuti informasi yang diperoleh tim Satgas 115 pada Mei dan Juni 2016, maka dilakukan inspeksi untuk melakukan pengecekan (pemeriksaan) data dan infromasi dari PSDKP Benoa.

Hasilnya, kapal eks asing yang masih di Benoa hanya tinggal 63 kapal. Artinya, sejak Desember 2015 sampai dengan Juli 2016 terdapat 56 kapal telah keluar dari Benoa.

Selain berkurangnya jumlah kapal eks asing, inspeksi yang dilakukan juga menemukan sejumlah praktik kecurangan, antara lain praktik pergantian nama dan kebangsaan kapal secara ilegal, praktik penyalahgunaan dokumen kapal, praktik pergantian nama dan bendera kapal serta penyalahgunaan izin daerah.

Praktik pergantian nama dan kebangsaan kapal secara ilegal seperti yang dilakukan KM. Putra Jaya 20, kapal eks asing milik PT. HC yang berganti nama menjadi JIN LIN CHIEN, dan mengibarkan bendera Taiwan sebagai bendera kapal.

Selanjutnya, hasil penyelidikan yang dilakukan Satgas 115 menemukan sejumlah fakta terkait praktik penyalahgunaan dokumen kapal, dimana kapal fiber eks asing menggunakan dokumen kapal Indonesia untuk menangkap ikan. Semisalnya pada hari Selasa, 26 Juli 2016, terdapat sebuah kapal fiber yang identik dengan bentuk kapal ikan eks asing Taiwan bernama Fransiska, keluar dari Pelabuhan Benoa.

Kemudian dari hasil penelusuran tim Satgas 115 pada pola pendaftaran kapal, ditemukan fakta bahwa kapal-kapal eks asing di Benoa, mengganti nama dan bentuk kapal menjadi seolah-olah kapal dalam negeri pada galangan kapal lokal di Benoa.

“Kapal yang sebelumnya berbahan fiber, masuk ke dock dan kemudian dilapisi kayu. Sehingga dalam pendaftaran kapal baru, kapal tersebut terdaftar sebagai kapal kayu buatan galangan kapal dalam negeri,” tandas Susi. (albi)