Angkasa Pura 2

Indonesia Keluarkan 1.300 Izin Tangkap Kapal China, Thailand, Taiwan dan Jepang

Dermaga Kelautan & PerikananSelasa, 9 Agustus 2016
Susi_Pudjiastuti_edit

JAKARTA (Beritatrans.com) – Hampir dua dekade Penanaman Modal Asing (PMA) diperbolehkan investasi 100% di sektor Perikanan Tangkap di seluruh wilayah Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengeluarkan izin tangkap untuk kurang lebih 1.300 kapal dari China, Thailand, Taiwan, Jepang dan lain lain.

Demikian tulis Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kepada rakyat Indonesia melalui surat elektronik yang diterima Beritatrans.com di Jakarta, Senin (8/8/2016) malam.

Dalam surat tersebut, Susi melanjutkan, kapal kapal tersebut ada yang masuk PMA murni karena boleh 100% asing dan ada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan atau join venture. “Sementara pengolahan di wilayah barat Indonesia, investasi asing maksimal 40% dan di Indonesia Timur maksimal 67%,” kata pengusaha penerbangan itu lagi.

Dari sisi ini, menurut Susi, kelihatan peraturan investasi ini memang Pro Ilegal fishing, bahwa kapal dari luar negeri bisa membikin pabrik pengolahan abal-abal , menangkap ikan, transhipment di tengah laut. Bukan hanya itu, mereka bisa membawa pergi ikan ke negeri masing masing dengan kapal kapal tramper mereka yang berukuran 1.000 GT sampai dengan 10.000 GT.

Yang ternyata terjadi di Indonesia adalah sebanyak 1.300 izin kapal tangkap diduplikasi. “Realitanya lebih dari 10.000 ( sepuluh ribuan lebih) kapal ikan dari negara negara tetangga, menangkap ikan di laut kita. Jumlahnya beberapa ribu kapal bahkan tanpa izin sama sekali,” kilah Susi.

Keruk Uang Tunai

Lautan Indonesia, menurut Susi telah menjadi zona bebas mengeruk uang tunai berupa ikan, udang dan lain lain. Dari dalam laut dan juga sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat penyelundupan tekstil, miras, narkoba dan lain lain.

Selain mengambil ikan dan lainnya dari laut indonesia, terang Susi, mereka juga membawa binatang-binatang langka seperti burung kakaktua, buaya, penyu, cendrawasih dan lain lain.

Fakta yang membuat miris kita semua, kilah Susi, Perikanan Indonesia dari tahun 2003 sampai 2013, kehilangan 115 pabrik pengolahan yang tutup maupun bangkrut karena tidak ada bahan baku, semua dicuri.

“Rumah tangga (RT) nelayan berkurang 50% dari jumlah 1.6 juta RT menyusut menjadi tinggal 800 ribuan. Hidup sebagai Nelayan tidak lagi bisa mencukupi,” terang Susi.

“Contoh Cirebon, sejak 15 sampai 20 tahun yang lalu udang dalam satu malam ratusan ton ditangkap. Cilacap 50 sampai 100 ton/ hari. Pangandaran 10 sampai 50 ton per hari. Semua hilang, sampai dengan dua tahun yang lalu ada 1 ton sudah hilang tanpa bekas,” tutur Susi.

“Kini, nelayan Indonesia yang masih tersisa, kini mencoba dengan segala cara untuk bisa hidup, destruktif fishing memakai portas, bom, cantrang/ trawl dan lainnya. Sunggung mengerikan,” tegas Susi.(helmi)