Angkasa Pura 2

Sudah 69 Gugatan Perkara Pembebasan Lahan Bandara Kulon Progo

BandaraSelasa, 9 Agustus 2016
Bandara-Kulonprogo-Yogyakarta

YOGYAKARTA (BeritaTrans.com) – Pengajuan gugatan terkait ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon ke Pengadilan Negeri (PN) Wates mencapai 69 kasus. Sebelumnya baru ada satu gugatan yang masuk dan saat ini sedang proses persidangan.

Staf Bagian Informasi PN Wates, Anton Heriantono mengatakan, hingga pekan ini sudah ada sekitar 40 gugatan yang masuk ke PN Wates. Sejumlah gugatan tersebut telah diterima dan lolos seleksi berkas administrasi untuk disidangkan.

Gugatan yang masuk tersebut memperkarakan besaran ganti rugi yang dinilai belum sesuai. “Selain itu ada juga sejumlah gugatan dari para pemilik tambak udang yang tidak mendapatkan ganti rugi dalam proses pembebasan lahan bandara,” ungkap Anton seperti dirilis suaramerdeka, Senin(8/8/2016).

Selain sekitar 40 gugatan yang telah masuk, lanjut Anton, ada sekitar 29 gugatan yang diajukan pada Senin (8/8). Dengan demikian, sudah 69 gugatan Meski demikian, berkas gugatan belum diterima karena masih ada kekurangan persyaratan.

Hingga saat ini baru satu gugatan yang telah memasuki proses persidangan di PN Wates, yakni gugatan atas nama Kasringah warga Janten. Rencananya perkara ini akan diputuskan pada sidang 15 Agustus mendatang, setelah melalui beberapa tahapan persidangan beberapa pekan terakhir ini.

Anton menambahkan, gugatan lainnya rencananya akan mulai disidangkan pekan depan dan digelar setiap hari. Sidang diagendakan setiap hari karena ada puluhan gugatan yang harus diselesaikan dengan cepat.

“Harus diselesaikan dengan cepat seperti ketentuan dalam Peraturan Mahkamah Agung No 3/2016 tentang tata cara pengajuan keberatan dan pentipan ganti rugi ke PN dalam pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum,” tuturnya.

Pada sidang Senin (8/8), gugatan Kasringah kepada BPN dan PT Angkasa Pura I memasuki tahap pembuktian. Dalam persidangan tersebut, dipaparkan bukti-bukti baik dari pihak penggugat maupun tergugat.

Kuasa insidentil penggugat, Faruq Yawawi mengatakan, berdasarkan hasil penilaian, salah satu bidang lahan dihargai Rp 2.082.000 per meter persegi, sedangkan bidang lahan lainnya hanya Rp 889.000 per meter persegi. Padahal, 2 bidang tersebut terletak bersebelahan dengan aset-aset pendukung hampir serupa. Oleh karena itu gugatan dilakukan agar harga yag diberlakukan untuk dua bidang tanah milik penggugat tersebut sama. (della).