Angkasa Pura 2

Nuryati Solapari Mantan TKI Di Arab Raih Gelar Doktor Dari Universitas Padjadjaran

SDMSabtu, 13 Agustus 2016
images (1)

BANDUNG (BeritaTrans.com) – Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, Nuryati Solapari, yang pernah bekerja di negeri “petro dollar” itu pada 1998-2001, meraih gelar Doktor dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dengan predikat memuaskan.

“Gelar akademik ini saya abdikan untuk para TKI,” kata Nuryati Solapari ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu.

Nuryati (37 tahun) berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Penerapan Prinsip Keadilan Sosial Bagi Perlindungan Pekerja migran Indonesia Dalam Pemenuhan Hak Menurut Sistem Hukum Ketenagakerjaan Indonesia” dalam sidang guru besar Fakultas Hukum Unpad yang dipimpin Dekan Fakultas Hukum Unpad Dr An An Chandrawulan SH LLM, di Bandung pada Jumat (12/8).

Sidang tersebut antara lain dihadiri oleh ibunda Nuryati, keluarga, dan mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat.

kisah-sejati

Nuryati yang lahir di Serang, Banten, 2 Juni 1979, mengisahkan dia menjadi TKI karena untuk mengumpulkan uang guna membiayai kuliah setelah tamat dari SMA. Ia tamat dari SMA Prisma di Kota Serang, Banteng, sebagai lulusan terbaik.

Ia menjadi pengasuh bayi (babby sitter) pada keluarga di Arab Saudi. Di Arab Saudi, Nuryati beruntung bekerja di sebuah keluarga yang disebutnya berperangai baik.

“Saya bekerja di sebuah keluarga karir. Suami-istri bekerja sebagai dokter,”ungkapnya,

Nuryati melakoni rutinitas ini sampai akhirnya dia melihat sebuah berita dari stasiun televisi setempat — yangmenyiarkan sebuah prosesi wisuda di Universitas Al Azar, di Kairo, Mesir.

“Saat itulah saya terbangun lagi, bahwa niat saya bekerja sebagai TKI adalah untuk kuliah,” katanya, mengenang.

Sebelumnya, dia berulang kali memberitahu majikannya bahwa tujuannya bekerja di Arab Saudi adalah untuk mencari uang untuk biaya kuliah.

Sang majikan, tentu saja, terheran-heran mendengar ucapan Nuryati. “Saya untuk pertama kalinya mendengar warga Indonesia menjadi TKI di Arab, karena ingin kuliah. Biasanya mereka pulang untuk bangun rumah,” Nuryati menirukan tanggapan majikannya, kali ini dengan tergelak.

Secara terus-terang dia kemudian mengutarakan keinginannya untuk tidak memperpanjang kontrak dan kembali ke Indonesia.

Tentu saja, suami-istri itu berusaha membujuknya agar tetap bekerja di rumahnya.

“Mereka bahkan mengiming-imingi saya, dengan menjanjikan memberi hadiah, berupa membangunkan rumah di Indonesia segala,” jelasnya.

Dihantui dilema, karena antara lain tuntutan membiayai adiknya dirawat di rumah sakit, Nuryati akhirnya lebih memilih pulang ke Indonesia di tahun 2001.

Setelah masa kontrak kerjanya selesai pada tahun 2001 dan uangnya cukup untuk untuk masuk perguruan tinggi, dia kembali ke Tanah Air.

Nuryati kemudian kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Serang, Banten. Dalam perjalanan kuliahnya, dia sempat mengisi waktunya juga bekerja di sebuah restoran siap saja.

Setelah meraih gelar S-1, Nuryati kemudian melanjutkan program pascasarjana S-2 ke Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta.

Lulus dari Universitas Jayabaya, Nuryati bekerja sebagai dosen di Fakultas Hukum Sultan Ageng Tirtayasa, sembari menjadi pekerja sosial dalam memberikan advokasi dan pemberdayaan kepada para calon TKI, mantan TKI, dan keluarga TKI.

Ia lalu mengikuti program S-3 di Fakultas Hukum Unpad hingga meraih gelar Doktor.

Nuryati menceritakan suasana haru menyelimuti ketika detik-detik Ketua Sidang Dr. An An Chandrawulan menyatakan dia lulus dengan predikat memuaskan.

Derai air mata Nuryati tak tertahankan. Diceritakan bahwa ibundanya juga tampak menitikkan air mata haru.

Dalam desertasinya, Nuryati menyatakan telah terjadi ketidakadilan bagi pekerja migran di setiap tahapan baik itu pada masa prapenempatan, masa penempatan dan purnapenempatan.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu ada bantuan hukum yang difasilitasi negara dalam setiap tahapan itu, bila memang dibutuhkan oleh TKI.

Walaupun dia menyatakan banyak ketidakadilan bagi TKI namun Nuryati yakin bahwa menyetop penempatan TKI adalah tidak tepat kerena ini menyangkut hajat hidup yang terjadi di kalangan berpendidikan rendah yang hanya bisa menjual jasanya di luar negeri.

“Negara harus hadir agar mereka bisa tetap bekerja ke luar negeri dengan perlindungan negara yang baik,” katanya dalam disertasi tersebut.

Menurut Nuryati, bagi perempuan yang bekerja ke luar negeri tidaklah melanggar hukum Islam karena kondisi memaksa akibat suami sangat sulit memiliki pekerjaan atau keluarga yang miskin.

Kini Nuryati Solapari telah menikmati hasil kerja kerasnya.meskipun ia memiliki sertifikat Advokat dari persatuan Advokat,namun ia lebih memilih menjadi seorang dosen di Almamaternya.Berbagai penghargaan pun ia raih.Penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar pada tahun 2010 dan penghargaan dari pemerintah Arab Saudi yang di serahkan langsung oleh Wakil Duta Besar Arab Saudi,Majed Abdulaziz Al-Dayel. (awe/sumber: antara dan lainnya).