Angkasa Pura 2

Ada 3.200 Angkot Di Kota Bekasi, Sebagian Tak Berizin

KoridorSenin, 15 Agustus 2016
images (31)

BEKASI (BeritaTrans.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengakui jumlah angkutan kota (angkot) di wilayahnya saat ini melebihi kapasitas (overload). Akibatnya, ribuan angkot tersebut cenderung menimbulkan kemacetan panjang disetiap jalan.

“Salah satu pemicu kemacetan di Bekasi adalah banyaknya angkot yang beroperasi, saat ini keberadaan angkot itu sudah overload,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Bekasi, Yayan Yuliana di Bekasi, Senin (15/8/2016).

Yayan menambahkan, kebanyakan angkot itu sudah berusia lebih dari 15 tahun. Berdasarkan catatan Dishub Bekasi, ada 3.200 angkot lebih, namun yang mempunyai izin operasional hanya sekitar 1.600-an. Sisanya operasi tanpa izin alias angkot bodong. Padahal, idealnya jumlah angkot itu sekitar 1.500-an.

Dia menjelaskan, pemerintah tengah berupaya mengurangi jumlah angkot yang ada saat ini. Pihaknya akan mengubah peruntukan angkot yang sudah berusia di atas 15 tahun untuk dijadikan kendaraan pribadi atau pelat hitam. “Angkot yang uzur diperkirakan capai 320 unit,” ujarnya seperti dikutip sindonews.

Untuk itu, kata dia, pihaknya menekankan kepada pengusaha angkutan di wilayah itu agar peremajaan dilakukan dengan perbandingan satu banding tiga. Artinya, angkot uzur tiga unit diganti dengan angkot baru satu unit. Adapun, kapasitas penumpang sama dengan tiga angkot.

Kemudian diganti dengan kendaraan sejenis elp. Dengan begitu, jumlah angkot di Kota Bekasi dapat ditekan. Karena, berdasarkan pengamatan di lapangan, saking banyaknya angkot, para sopir rebutan penumpang sehingga rela ngetem di jalan secara sembarangan.

Sehingga, lanjut dia, dampaknya menyebabkan kemacetan. Misalnya, sopir angkot rela ngetem lama di depan stasiun Bekasi. Bukan hanya satu dua, tetapi bisa mencapai belasan unit. Akibatnya, satu bahkan dua lajur dipakai angkot tersebut, sehingga arus lalu lintas menjadi tersendat.

Selain itu, angkot tersebut menyebabkan kemacetan disekitar tol Bekasi Timur, Terminal Bekasi, Stasiun Kranji, Bekasi Barat, dan titik lainnya juga seperti itu. “Biasanya kami tertibkan, namun di esok harinya mereka tetap membuat kemacetan dan membandel,” ungkapnya.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bekasi, Hotman Pane mendukung rencana pemerintah melakukan peremajaan. Menurut dia, sekitar 10 persen dari total angkot yang ada sudah uzur.

“Tapi jangan sopir angkot saja yang disalahkan menjadi biang kemacetan,” tegasnya.

Bahkan dia berdalih bahwa jumlah kendaraan pribadi jauh lebih banyak ketimbang angkot. Dengan begitu, kapasitas jalan tak sebanding dengan volume kendaraan yang ada. “Angkot ngetem karena butuh penumpang, kendaraan pribadi juga harus dibatasi,” tukasnya.