Angkasa Pura 2

Ancam Keselamatan Penerbangan, Pemasangan 150 Tiang Pancang Tol Solo-Kertosono Disetop Sementara

Bandara Kokpit KoridorSenin, 15 Agustus 2016
images (30)

BOYOLALI (BeritaTrans.com) – Pemasangan tiang pancang untuk proyek over pass jalan tol Solo-Kertosono (Soker) di Desa Ngesrep, Ngemplak, dianggap mengancam penerbangan pesawat. Alhasil, proyek yang tak jauh dari Bandara Adi Soemarmo itu pun dihentikan sementara sampai ditemukan solusi atas masalah itu.

Pelaksana proyek Tol Soker di wilayah Sobokerto I, Sutarno, mengatakan penghentian pemasangan tiang pancang over pass di wilayah Ngesrep dilakukan, Rabu (10/18/2016) lalu. Padahal, proyek tersebut baru dimulai awal Agustus. “Baru sepuluh hari proyek berjalan, proyek terhenti,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi, Minggu (14/8/2016).

Menurut Sutarno, penyebab utama dihentikan proyek over pass ialah soal alat berat crane. Ketinggian crane, kata dia, dianggap melebihi batas elevasi dan dinilai bisa membahayakan penerbangan pesawat, baik pesawat umum atau pesawat TNI.

“Katanya, bisa membahayakan keselamatan pesawat yang akan take off atau landing,” terangnya.

Sesuai rencana, jumlah tiang pancang over pass yang akan dipasang di satu titik di barat Bandara mencapai 150-an unit. Tiang-tiang pancang tersebut bakal menyangga jembatan selebar 9 meter dan panjang 250-an meter. Kelandaian over pass mencapai 6 derajat.

“Saat ini, pimpinan proyek sedang koordinasi untuk membahas masalah itu. Saya sebagai pelaksana diminta menghentikan proyek, ya saya hentikan. Sekarang, saya mengerjakan proyek lainnya,” ujar dia seraya mengaku belum tahu sampai kapan proyek dihentikan.

Manajer Teknis PT. Wijaya Karya, Fatkhur, membenarkan bahwa pemasangan tiang pancang over pass jalan Tol Soker dihentikan sementara karena ada kekhawatiran mengganggu penerbangan. Fatkhur mengaku sudah menemui pihak Angkasa Pura dan TNI dari Pangkalan Udara (Lanud) Adi Soemarmo untuk membahas masalah itu.

“Saya sudah meminta pihak Angkasa Pura dan Lanud untuk melakukan pengukuran dan analisis terkait masalah itu. Dalam pekan ini, hasilnya akan disampaikan kepada kami,” paparnya.

Menurut Fatkhur, ketinggian alat berat crane di Desa Ngesrep sebenarnya sudah dihitung matang dan tak akan mengganggu penerbangan. Namun, lanjutnya, berdasarkan perhitungan pihak Angkasa Pura dan Lanud ketinggian crane masih membahayakan.

Ditanya ketinggian bangunan over pass, kata Faktkhur, pihak Angkasa Pura menilai sudah sesuai dengan gambar yang direkomendasikan.

“Masalahnya ini soal alat berat yang memasang tiang pancang. Karena saat beton-beton dipaku ke bumi, alat beratnya kan harus tinggi dari paku beton agar bisa menancap kuat,” jelasnya.

Terkait masalah ini, Manajer Angkasa Pura, Abdullah Usman, belum bisa dimintai keterangan.

Sementara itu, Danlanud Adi Soemarmo Kol. (Nav). Agus Priyanto, mengatakan masalah tersebut saat ini sedang dalam pembahasan. Agus belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut lantaran masih dalam pembahasan. Namun, saat ditanya alasan penghentian pembangunan over pass karena membahayakan penerbangan, Agus membenarkannya.

“Nanti saja kalau sudah selesai pembahasan, akan kami jelaskan,” ujarnya. (ray).

loading...