Angkasa Pura 2

BPPT Akan Kerahkan Lagi Pesawat Cassa 212 TNI AU Semai Hujan Buatan Di Kalbar

Kokpit Lingkungan & KehutananSenin, 22 Agustus 2016
semai-awan1

semai-awan

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kepala Laboratorium Modifikasi Cuaca Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tri Handoko Seto, mengatakan akan melanjutkan program hujan buatan di Riau pada pekan ini. BPPT pun segera menyiapkan program hujan buatan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat (Kalbar).

“Program hujan buatan di Riau akan kami lanjutkan pada Rabu (24/8). Untuk Kalbar, kami sedang kirim peralatan dan bahan baku hujan buatan. Karena menempuh perjalanan laut dan darat, bahan dan alat baru tiba di Kalbar sekitar pekan depan,” jelas Tri kepada Republika di Jakarta, Senin (22/8).

Adapun armada yang digunakan untuk program hujan buatan adalah pesawat Cassa 212 yang dipinjam dari TNI AU. Hingga saat ini, program hujan buatan BPPT masih diakomodasi oleh dua pesawat. Padahal, lanjut Tri, ada delapan provinsi rawan karhutla yang semestinya juga mendapatkan bantuan hujan buatan secara merata. Kedelapan provinsi yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Aceh dan Kalimantan Timur.

“Karena keterbatasan pesawat, kami baru bisa memprioritaskan kepada lima daerah, yakni Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Jambi. Dua pesawat kami gunakan secara bergantian sesuai daerah mana yang paling membutuhkan,” tutur Tri.

Dia menambahkan, program hujan buatan tetap berlanjut hingga Oktober mendatang. Prioritas waktu pelaksanaan hujan buatan menyesuaikan prediksi puncak musim kemarau pada Agustus – Oktober 2016.

Sementara itu, berdasarkan pantauan citra satelit Terra dan Aqua, Ahad (21/8), jumlah titik panas (hotspot) terbanyak berada di Kalbar , yakni 42 titik. Sebanyak 21 titik dari keseluruhan titik panas di Kalbar berstatus signifikansi tinggi.

Di Sumatera, jumlah titik panas mencapai 12 titik. Sementara di Papua dan Maluku serta Nusa Tenggara, jumlah titik panas masing-masing tercatat sebanyak tujuh dan lima titik. (rol).