Angkasa Pura 2

Kampanye Keselamatan Berkendara, Toyota: Baru 30% Pengemudi Gunakan Seat Belt

Koridor OtomotifSenin, 29 Agustus 2016
FB_IMG_1472464228780

seat belt

YOKOHMA (BeritaTrans.com) – Pabrikan mobil asal Jepang, Toyota, tahun ini kembali menggencarkan kampanye keselamatan berkendara untuk wilayah Asia Pasifik. Khusus tahun ini, Toyota akan menekankan kepatuhan pengendara untuk menggunakan sabuk pengaman.

Berdasarkan survei Toyota pada 2014 lalu, mayoritas pengguna mobil di Asia Pasifik masih tidak memasang sabuk pengaman ketika berkendara. Untuk Indonesia saja, baru 30 persen pengendara yang telah menggunakan sabuk pengaman atau sama dengan Thailand. Angka itu pun masih lebih baik dari Malaysia (22 persen), Filipina (20 persen), dan Vietnam (20 persen).

“Keselamatan berkendara adalah prioritas utama Toyota. Melalui kampanye kesadaran keselamatan regional, kami mendesak pengendara dan penumpangnya untuk menggunakan sabuk pengaman untuk menjaga diri dan keluarganya,” kata Presiden Toyota Motor Asia Pasific, Hiroyuki Fukui, di Yokohama, Jepang, Minggu, 28 Agustus 2016.

Pekan ini, Toyota mengundang ratusan jurnalis dari sejumlah negara Asia untuk menyaksikan langsung proses penyematan fitur keselamatan pada produk Toyota. Tempo termasuk dalam salah satu undangan.

Dalam hasil survei Toyota pada 2014, terdapat lima alasan pengendara tidak mengenakan sabuk pengaman. Mulai dari merasa telah aman dengan keberadaan kantung udara atau airbag, percaya dengan kemampuan menyetir, perjalanan pendek, merasa tidak nyaman, hingga takut pakainnya kusut.

Padahal, menurut Fukui, Toyota tiap tahun bisa memproduksi hingga 10 juta unit mobil. Sekitar 80 persennya dijual di luar negeri. “Dan teknologi keselamatan kadang sulit dijelaskan kepada para pelanggan,” ujar Fukui.

Toyota berharap kampanye mereka pada tahun ini bisa memperkuat fungsi sabuk pengaman dan kantung udara hingga 15 kali lipat. Toyota mencatat penggunaan sabuk pengaman mampu menekan risiko cedera fatal saat kecelakaan hingga 50 persen buat pengendara di baris depan dan 75 persen pada pengendara baris belakang.

Khusus untuk Indonesia, Fukui mengatakan, Toyota siap untuk memenuhi standar keselamatan berkendara bila diminta pemerintah. Menurut dia, semua fitur keselamatan sebenarnya telah disematkan dalam semua produk Toyota namun pemasangannya disesuaikan dengan kondisi negara konsumen. “Itu terserah pemerintah,” kata dia.

Wakil Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono mengatakan, di negara-negara maju saat ini, industri otomotif sudah dituntut efisien. Negara-negara maju menginginkan produk otomotif yang dijual sudah rama lingkungan.

“Kami sudah siap di Indonesia. Tapi kalau tidak ada petanya, ya jadi mahal. Seperti Toyota Prius di Indonesia,” ujar Warih di Tokyo.

Sementara untuk fitur keselamatan, kata Warih, semua produk Toyota yang dijual di Indonesia telah memenuhi standar minimal keselamatan seperti airbag. Hanya saja, untuk keselamatan tambahan yang belum diatur seperti kantung udara untuk penumpang di baris belakang baru tersedia di sejumlah produk kelas-kelas tertinggi.

Produk buatan TMMIN menitikberatkan pada passive safety dan didukung oleh active safety yang disesuaikan dengan karakteristik dan ketersediaan infrastruktur setempat. Komponen pasive safety seperti sabuk pengaman dan active safety seperti anti-lock break system dapat ditemui di Kijang Innova, Fortuner, Sienta, Vios, Limo, Yaris, dan Etios yang diproduksi di fasilitas Karawang, Jawa Barat. (della/sumber tempo.co).

loading...