Angkasa Pura 2

Kapolri Tito: Teror Bom Di Gereja Katholik Medan Fenomena Baru

Aksi PolisiSenin, 5 September 2016
kapolri tito

JAKARTA (Beritatrans.com) – Kasus teror bom medan menunjukkan fenomena terorisme baru. Para pelaku teror dan aktor intelektualnya mulai dengan merekrut anak-anak di bawah umur untuk beraksi sendiri.

“Pelaku teror bom tersebut, IAH masih berusia 17 tahun. Hal itu tidak lazim terjadi dalam kasus-kasus teror bom di Indonesia sebelumnya,” Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam Rapat Kerja Polri dengan Komisi III, di Jakarta Senin (5/9/2016).

“Ini fenomena baru. Merekrut anak-anak di bawah 18 tahun dan kemudian membuat bom sendiri, merakit sendiri, dan melakukan aksi sendiri,” kata Tito lagi.

Mantan Kadensus 88 Mabes Polri itu memastikan bahwa aksi IAH dilakukan sendiri (self radicalization). Dan tak tergabung dengan jaringan teroris manapun.

Meski demikian, dari pengembangan yang dilakukan Kepolisian, ditemukan bahwa IAH ternyata pernah melakukan kontak langsung dengan Bahrun Naim.

“Dia memiliki kontak langsung dengan Bahrun Naim, yang ada di Raqqa Syria. Bahrun Naim ini juga tokoh yang bergabung di ISIS,” ujar Tito.

Seperti diketahui, telah terjadi percobaan bom bunuh diri oleh IAH (18), terjadi di Gereja Katholik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan, Minggu (28/8/2016) pagi.

Ledakan yang diduga bom berkekuatan rendah itu terjadi sekitar pukul 08.20 WIB saat Pastor Albert Pandiangan, OFM Cap (60) selesai membaca kitab suci.

Saat itu tas ransel yang dibawa pelaku meledak. Pelaku duduk di kursi barisan pertama.
Seperti dikutip Kompas, seorang saksi mengatakan, pelaku kemudian lari ke altar membawa pisau dan kapak.

Ia melompati tangga dan menghampiri Albert yang masih berada di mimbar. Albert turun dari mimbar, tetapi dikejar oleh pelaku yang hendak mengampaknya.

Pelaku yang sempat menusuk lengan kiri Albert kemudian ditangkap umat. Dan IAH pun diserahkan ke pihak aparat kepolisian di Medan, Sumatera Utara.(helmi/kom)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari