Angkasa Pura 2

Mendikbud: 12.000 Sopir Profesional Asal Filipina Segera Masuk Indonesia

Koridor SDMSenin, 5 September 2016
Mendikbud Muhadjir Effendy

MALANG (Beritatrans.com) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mengatakan, akan ada 12.000 sopir lisensi internasional dari Filipina yang akan datang ke Indonesia. Dari jumlah itu, sekitar 40 persen atau sebanyak 4.800 orang adalah sopir perempuan.

“Kedatangan sopir itu sebagai dampak dari diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” kata Mendikbud Muhadjir Effendy saat membuka Pekan Budaya Indonesia 2016 di Pendopo Kabupaten Malang, akhir pekan lalu.

Menurut dia, dari 12.000 sopir itu, 40 persen merupakan sopir perempuan. Terkait kondisi itu, pemerintah akan menggalakkan pendidikan vokasi untuk anak didik Indonesia.

Hal itu dilakukan supaya tercipta tenaga kerja dengan keterampilan yang handal. “Karena kita butuh tenaga-tenaga kerja yang terampilan untuk menghadapi tantangan tenaga kerja masa depan,” kata Muhadjir seperti dikutip laman kompas.com.

Muhadjir juga meminta kepada anak didik untuk berorientasi pada keterampilan saat sudah memasuki masa pendidikan SMA.

Dengan begitu, setelah lulus SMA, anak didik tersebut bisa langsung mendapat pekerjaan.
“Pemerintah sedang menggalakkan pendidikan vokasi. Pemerintah berharap anak-anak yang tamat SMK langsung bisa bekerja. Jadi tidak usah dipaksakan semua harus kuliah,” jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Menurutnya, Indonesia membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Sebab, sejumlah negara anggota MEA sudah bersiap untuk memasuki Indonesia.

Bahkan, ada sebagian negara yang mengajarkan Bahasa Indonesia di sekolah dan perguruan tinggi. “Filipina tadi di sana perguruan tingginya sudah mengajar Bahasa Indonesia. Filipina paling siap untuk bahasa Indonesia,” kata dia.

Saat ini, Soekarwo menyebut bahwa Indonesia masih kekurangan tenaga kerja yang terampil. Terutama terkait dengan pemahaman tentang teknologi modern.

Ia mencontohkan banyaknya tenaga kesehatan yang akhirnya tidak mampu bersaing karena keterbatasan pemahaman untuk mengoperasikan teknologi medis yang canggih.

“Perawat kita dididik misalkan, setelah kita masukkan (ke luar negeri), di sana rumah sakitnya lebih modern, jadi tidak bisa mengoperasikan alatnya. Itu problem kita. Padahal nurse itu kurang sekali,” ucapnya.

“Amerika Serikat itu kekurangan 2.500 perawat. 150 perawat permintaan dari Australia tidak bisa dikirim, karena harus bisa mengoperasikan alatnya,” tegas Sukarwo.(helmi/kom)

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari