Angkasa Pura 2

Musibah Beruntun Kapal Laut, Keselamatan Pelayaran Lampu Kuning

DermagaSabtu, 17 September 2016
images (32)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Musibah beruntun terjadi di moda transportasi laut. Deretan peristiwa ini semestinya diterima dengan bijak bahwa penegakan keselamatan pelayaran patut terus disempurnakan dan lebih tegas lagi implementasinya.

Peristiwa pertama, kapal Fast Boat Gili Cat 2 tujuan Trawangan meledak di perairan Padang Bai, Tanjung Sari, Karangasem, Provinsi Bali, Kamis (16/9/2016) pagi.

images (33)

Dari 35 penumpang kapal cepat itu, dua orang meninggal dunia dan 14 orang mengalami luka parah dan dilarikan ke rumah sakit.

Beberapa di antara korban luka merupakan warga negara asing seperti Australia, Portugal, Jerman dan lainnya. Mereka sedang berlayar dari Padang Malai menuju Trawangan untuk berwisata ke Lombok.

IMG-20160916-WA0008-1

Peristiwa kedua, kebakaran melanda kapal pengangkut semen curah MV Devine Success di Dermaga 115 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (16/9/2016) malam.

Satu minggu sebelumnya, kapal KM Indah Perkasa, yang mengangkut puluhan kontainer, tenggelam di Gusung Lebar perairan Tanjung Menjangan perbatasan laut Bangka Selatan dan Sumatera Selatan, Kamis (8/9/2016).

images (34)

Pada Minggu (21/9/2016), kapal pompong (perahu kayu) mengangkut 17 penumpang dengan rute pelayaran Pelabuhan Tanjung Pinang-Penyengat tenggelam.

Sebanyak 14 penumpang korban kecelakaan kapal itu dipastikan tewas setelah ditemukan Tim SAR Kepulauan Riau.

images (35)

Peristiwa itu dengan jelas dan tegas memperlihatkan bahwa masih saja keselamatan pelayaran membutuhkan penyempurnaan dalam implementasinya walaupun Kementerian Perhubungan selaku regulator sering kali mengingatkan bahwa keselamatan pelayaran merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar.

Ada persoalan yang mesti ditelaah di pihak operator dalam konteks keselamatan pelayaran. Pada sisi lain, kepada pihak regulator sah-sah bila disodorkan pertanyaan seberapa jauh mengawal aspek keselamatan pelayaran.

Beruntunnya musibah memyebabkan sulit bagi publik untuk menghindar dari persepsi bahwa keselamatan transportasi laut dalam lampu kuning. Apalagi sudah belasan nyawa hilang dalam dua peristiwa yakni di Bali dan Kepulauan Riau.

Bila kondisi seperti ini tidak dikelola dengan profesionalitas dan kompetensi tinggi maka hanya persoalan waktu saja lampu tadi berubah menjadi merah. Jika kondisi ini terjadi maka efek negatifnya akan berganda.

Efek tersebut antara lain berupa runtuhnya kepercayaan publik terhadap jasa transportasi laut, merosotnya minat wisatawan untuk berwisata bahari menggunakan jasa transportasi laut milik Indonesia, berpengaruh terhadap kelancaran arus logistik, serta meroketnya premi asuransi.

Dalam skala nasional maka efek negatif menjadi kontraproduktif dalam usaha besar Pemerintahan Jokowi-JK membangun kekuatan maritim nasional melalui perspektif tol laut dan poros maritim.

Karenanya adalah wajib hukumnya bagi regulator untuk membentuk gugus tugas, yang khusus meneliti, menganalisis sekaligus membangun formulasi tepat serta akurat agar kecelakaan kapal tidak kembali terulang.

Dalam konteks itu, Menteri Perhubungan lebih baik memanggil sekaligus memerintahkan Ditjen Perhubungan Laut dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk duduk bersama sekaligus menjadi unsur inti gugus tugas tadi.

Bila perlu tegaskan kepada gugus tugas bahwa mereka bekerja untuk menghindarkan moda transportasi laut dari ancaman berada pada kondisi darurat keselamatan pelayaran. (Agus Wahyudin)