Angkasa Pura 2

Ada Apa Dengan Sylviana Murni?

Figur Perspektif Bang AweJumat, 23 September 2016
2016-09-23 23.00.45

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Jumat, 23 September 2016, Koalisi Cikeas akhirnya mendeklarasikan pasangan Agus H Yudhoyono dan Sylviana Murni sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Mereka juga sudah mendaftar ke KPU DKI Jakarta.

Saya tak hendak mengkalkulasi secara politik kemampuan elektabilitas mereka dapat menjadi pemenang atau kalah dalam Pilkada DKI Jakarta. Saya ingin sekadar berbagi informasi yang mungkin cukup menarik untuk memperkaya wawasan pembaca, terutama tentang sosok Sylviana Murni.

Karena dari sekian banyak calon gubernur dan calon wakil gubernur, saya hanya kenal dan beberapa kali berkomunikasi dengan Sylviana, maka saya tertarik untuk membuat catatan tentang istri mantan pelaut di Djakarta Lloyd dan merupakan menantu dari keluarga Bali, yang tinggal di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, dekat kuburan Kawi-Kawi, tersebut.

Dalam kaitan itu, pembaca tak perlu khawatir bahwa saya memiliki motif politis atau kepentingan ekonomis. Karena saya bukan politisi, bukan pula ‘pasukan bayaran’ di media sosial yang rajin melontarkan opini dan gagasan sesuai permintaan pihak pemberi order.

Saya hanya mengabadikan informasi yang selama ini hanya terekam di otak dan menuangkan dalam coretan kecil, yang paling tidak menjadi bagian dari khazanah kreatifitas jurnalistik.

PEREMPUAN BETAWI
Saya mendapat informasi lebih banyak soal Sylviana Murni ketika dia menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta. Momen awalnya saat dia berkunjung ke kantor Harian Pos Kota di Jalan Gajah Mada 100, Jakarta Barat.

Sebagai bagian dari awak redaksi, saya hadir dalam pertemuan yang diisi dengan diskusi. Saat membacakan biodata, moderator menyebut Sylviana Murni merupakan satu-satunya sosok perempuan Betawi, yang berkarier di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Mantan None Jakarta ini menamatkan pendidikan S1 di Universitas Jayabaya dan S2 di Universitas Indonesia. Moderator lalu menyampaikan bahwa Sylviana Murni tidak dapat ikut menikmati makan siang karena sedang berpuasa. Perempuan ini memang sejak masih remaja sudah rajin puasa Senin-Kamis.

Mendengar informasi itu, saya kagum dalam hati. Dia ternyata tak hanya cantik dan cerdas, tetapi juga begitu kuat kesalihannya dalam menjalankan nilai-nilai transedental atau ibadah. Tak hanya ibadah wajib, yang sunah pun dilakoni.

Kekaguman saya bertambah ketika ternyata di tengah kecerdasannya memaparkan program kerja, dia juga santun dalam berbicara. Kalimat yang dilontarkannya kuat dengan pesan hendak memberi informasi jelas dan tegas namun bijak.

IBU WALIKOTA
Komunikasi secara personal terbangun dengan Sylviana Murni ketika saya didapuk oleh sejumlah kawan alumni SMAN 5 Jakarta untuk menjadi ketua Panitia Reuni Akbar SMAN 5 tahun 2010.

Reuni akbar yang digelar di Ancol itu pada akhirnya bersentuhan dengan Sylviana Murni karena posisinya sebagai Walikota Jakarta Pusat. Panitia mengundang Walikota Sylviana untuk hadir di acara reuni akbar dengan pertimbangan letak SMAN 5 di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Berkat bantuan seorang alumni, yang merupakan adik ipar dari Sylviana Murni maka surat undangan bisa sampai ke tangan walikota. Ada yang cukup mengagetkan ketika saya mengkonfirmasi melalui telepon seluler soal rencana kedatangannya di cara itu. “Saya kan bukan alumni SMAN 5,” tutur Sylviana.

Saya kontan menjawab: “Ya tapi kan SMAN 5 ada di Jakarta Pusat, wilayah di bawah kepemimpinan Ibu. Apalagi salah satu alumninya adalah adik ipar Ibu”.

Karena jawaban saya mungkin sungguh tepat dan apalagi status saya sebagai wartawan yang baik hati, maka dia akhirnya berjanji hendak datang. “Insya Allah,” cetus perempuan walikota pertama Jakarta itu.

Ketika hari H, ternyata Sylviana tidak ingkar janji. Dia datang tanpa pengawalan. Tanpa protokoler. Masuk ke areal Ancol, bayar tiket sendiri pula. Dan dia memberi sambutan, yang santun namun segar. Tanpa ada kalimat yang tidak merdu saat mampir di telinga.

BALIK MENGUNDANG
Sosok satu ini lekat dengan kesederhanaan. Karena mungkin saya pernah mengundang dia untuk hadir di acara reuni, maka Sylviana mengundang balik saya untuk menghadiri resepsi pernikahan anaknya.

Resepsi itu bukan digelar hotel mewah atau di gedung resepsi dengan tarif sangat mahal. Walau menjadi pejabat teras Pemprov DKI Jakarta, dia memilih menggelar resepsi pernikahan di rumahnya di kawasan perumahan pinggiran Jakarta Timur.

Jauh dari kesan glamour. Kental dengan nuansa kesederhanaan. Dia bahkan terlihat beberapa kali dengan sapa dan senyum ramah menyambut langsung tamu yang datang.

PENDAMPING SUAMI
Ada satu hal yang menurut saya juga menarik untuk disampaikan yakni tentang perannya sebagai pendamping suami. Salah satu contoh adalah saat suaminya terbaring di rumah sakit.

Menurut adik iparnya, Sylviana Murni sepulang kerja bersegera ke rumah sakit. Tidak ada malam tanpa kehadiran Sylviana saat Gede Sardjana dirawat. Dia mengurus dan melayani suaminya dengan sangat baik. Dan di pertiga ujung malam, dia menunaikan shalat tahajud serta membaca Alquran.
Masya Allah.
(Agus Wahyudin).