Angkasa Pura 2

Kantong Parkir Yang Menjadi ATM Oknum Tertentu Di Masyarakat

Ekonomi & Bisnis KoridorSenin, 26 September 2016
Parkir mobil di pinggir jalan

JAKARTA (Beritatrans.com) – Pengeluaran warga bayar parkir tepi jalan cukup besar. Jika tak besar, tidak mungkin banyak orang yang memperebutkan lahan parkir tepi jalan.

Sampai-sampai jadi peluang bagi peserta pilkada untuk menjadikan lahan parkir sebagai obyek yang dijanjikan bagi pendukungnya,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno kepada beritatrans.com di Jakarta, Senin (26/9/2016).

Dikatakan, tanpa keluar uang banyak, obyek yang seharusnya bisa menjadi sumber pendapatan potensial daerah, diserahkan kepada pendukungnya sebagai kompensasi.

“Ketika mulai ada upaya menertibkan menjadi lebih baik dan lebih transparan, tentunya kelompkok yang sudah terlalu lama menikmati miliar rupiah hasil dari penarikan parkir, pasti akan menolak dgn segala upaya,” jelas Djoko.

Salah satu jargon yang dimunculkan adalah untuk JARING PENGAMAN SOSIAL. Menggunakan slogan awal reformasi seolah masih selaras dengan kondisi sekarang.

“Memanfaatkan juru parkir sebagai kelompok warga miskin yang perlu dibantu,” papar Djoko.

Padahal jika ditelisik mendalam, pendapatan juru parkir tidak lebih besar dari upah minimun kabupaten/ kota (UMK). “Andai besar juga tidak dapat memberikan kehidupan layak, karena habis buat foya foya,” kilah Djoko.

Besar pendapatan tidak setiap hari. “Jukir adalah sasaran perasan yang tidak pernah dilakukan pembinaan dan dibiarkan liar,” sebut Djoko.

Yang mendapat besar tanpa kerja keras adalah oknum ormas, oknum LSM, oknum PNS, dan oknum aparat (polisi dan TNI) yang menjadi backing tempt parkir.

Lantas, akan sampai kapan kondisi parkir yang berpendapatan besar, tapi pemasukan minim ini tetapi dipertahan eksis. “Tarik ulur kepentingan masih berlangsung,” tandas Djoko.(helmi)