Angkasa Pura 2

Hendrowijono: Ironi, Maskapai Agresif Tambah Pesawat, Namun Ratusan Pilot Nganggur

Kokpit SDMSenin, 3 Oktober 2016
images

BERITA di halaman 17 Harian Kompas, Senin 3 Oktober 2016, sangat mengejutkan. Judulnya, “500 Pilot Lulusan Indonesia Menganggur”.

Berita ini lebih mengejutkan dibandingkan adanya sengketa perdata antara penerbang dengan perusahaan penerbangan, karena penerbang sulit keluar akibat kontrak yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Kontrak itu dibuat semacam ikatan dinas karena perusahaan membayari si calon karyawan untuk sekolah type rating sebelum bisa duduk di kokpit, tanpa tahu sebenanya berapa biayanya dan potongan gajinya setiap bulan sampai lunas.

Berita pilot lulusan lokal gagal kerja merupakan satu ironi sekaligus paradoks, sebab perusahaan penerbangan apakah itu Garuda, Lion atau Sriwijaya, selain Air Asia agresif menambah pesawatnya, jumlahnya sampai di atas 400 buah beberapa tahun ke depan. Jika satu pesawat membutuhkan 3 pilot, maka setidaknya dibutuhkan 1.200 pilot baru.

Kenyataannya, “Citilink membutuhkan 70 pilot, tetapi yang melamar ada 800 orang.” (Kompas, 3/10 hal 17). Kenapa bisa demikian, sementara kenyataannya semua airline mempekerjakan pilot asing yang dengan enteng diterima bekerja.

Pilot asing bekerja di airline Indonesia untuk mengejar 1.500 jam terbang dengan type rating pesawat tertentu, misalnya Boeing 737 atau Airbus lalu pulang ke negaranya yang menggaji pilotnya lebih mahal.

Hanya saja airline asing tidak menerima pilot abinitio, pilot fresh from the oven, lulus segar sekolah pilot. Syaratnya lebih berat, harus sudah punya 1.500 jam terbang di type rating tertentu, sementara Indonesia mewajibkan 250 jam terbang plus CPL (commercial pilot licence) dan IR (instrument rating).

Pilot lulusan sekolah terbang di mana pun tidak dapat langsung bekerja. Kecuali kalau mereka terbang di perusahaan yang armadanya pesawat kecil seperti yang mereka gunakan latihan untuk mendapat licence, antara lain Cessna C152 atau C172, atau Piper Cherokee yang maksimal bertempat duduk empat.

Harus Bayar 32.500 Dolar

Pilot baru harus sekolah lagi untuk type rating, tergantung kebutuhan perusahaan, dan biayanya bisa sampai 50 ribuan dollar AS, misalnya untuk bisa terbang dengan Boeing 737 atau Airbus. Itu pun mereka lulus training dengan 0 jam terbang di tipe itu karena “terbangnya” hanya di simulator.

Setiap tipe di Airbus, misalnya kelas AB 319-AB320, typerating-nya beda dengan AB330, AB340, beda pula dengan AB350 dan seterusnya, juga type rating Boeing 737-300 beda dengan Boeing 737-800 atau 737-900. Beda dengan pilot baru, pilot perusahaan jika akan pindah tipe pesawat akan disekolahkan lagi dengan biaya perusahaan, diikat oleh ikatan dinas sampai kira-kira biaya trainingnya lunas, bisa sampai 3-4 tahun.

Perusahaan penerbangan Indonesia jadi sasaran calon pilot Eropa atau Timur Tengah karena “mudah sekali” mendapat type rating. Setiap pilot ab initio, menurut pengakuan beberapa pilot yang menganggur, mau bayar sampai 32.500 dollar AS (sekitar Rp 425 juta) dan tidak perlu digaji standar Eropa, asal diikutkan training type rating dan terbang. Begitu mencatat 1.500 jam terbang, itu berarti rata-rata 14 bulan, mereka pun ciao.

Bagi airline, jujur, lebih menguntungkan menerima pilot asing yang membawa uang segar, dibandingkan menerima pilot lokal yang harus dimodali perusahaan walau kemudian mencicil. Kenyataan ini membuat bursa calon pilot asing memanas, mengalahkan SDM lokal yang tidak punya duit.

Calo-calo airline merekrut calon pilot asing bergentayangan dan beberapa tercatat berdomisili di India. Seorang kapten pilot di Indonesia dipecat gara-gara ketahuan menjadi agen calo India tadi, selain ada agen yang menggunakan nama Jatayu Air untuk memikat calon pilot, padahal Jatayu sudah lama tewas.

Tetapi melamar kerja sebagai penerbang dengan membayar 30 ribu dolar AS lebih membuat banyak pilot lokal mundur, meski dia lulusan sekolah pilot luar negeri.

Modal mereka masuk sekolah terbang swasta sekitar Rp 700 juta, sehingga begitu lulus mereka sudah kehabisan biaya, tak ada lagi sawah atau rumah orangtua yang tersisa untuk dijual.

Di sisi lain, regulator harusnya ketat memeriksa sekolah pilot swasta nasional yang jumlahnya sekitar 11 buah. Bukan rahasia dalam pelajaran cross country, kadet menerbangkan pesawat secara mutual, dua siswa dalam satu pesawat dan terjadi duplikasi dalam pencatatan jam terbang yang bisa membuat mutu lulusannya dipertanyakan.

Kompas menulis di berita itu, 80 persen dari 160 pilot Susi Air, atau sekitar 128 orang adalah pilot asing yang didapat dengan cara tadi. Agak aneh memang, karena Susi kebanyakan menggunakan pesawat kecil, sekelas Cessna Caravan.

Sementara Garuda Indonesia, menurut Vice President Corporate Communication-nya, Benny S Butarbutar, jumlah pilot asing mereka hanya lima persen dari 1.411 orang, atau 70 orang, dan jumlahnya makin dikurangi. (Moch. S Hendrowijono)