Angkasa Pura 2

Menteri Susi Sindir Banjir Jakarta: Ada Dalam Program!

Figur Kelautan & PerikananKamis, 6 Oktober 2016
IMG-20161006-WA0008

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengemukakan banjir di Kota Jakarta bukanlah hal yang aneh kalau dilihat dari kacamata lingkungan hidupnya.

Dengan gaya ucapan satire, Susi menjelaskan bahwa ada banjir di dalam program rancang bangun Ibu Kota Jakarta.

“Kalau kita orang lingkungan hidup dengan (melihat) pembangunan Jakarta ini terutama tata kelola air, kita sih bilang Jakarta banjir ya tidak aneh. Wong the way it’s designed and constructed right now, it’s a flood in program (didesain dan dikonstruksikan, banjir ada alam program),” ungkap Susi dikutip OkTerus.com.

n mencontohkan beberapa hal yang membuat dirinya berucap demikian. Ia melihat air yang berasal dari hulu dipercepat alirannya dan untuk hilirnya pun dijauhkan.

“Sungai diluruskan, ditanggul, jadi air tidak ke mana-mana. Kencang dari hulu ke hilir, nah di pinggir di-reklamasi. Jadi air dipercepat turun ke bawah, pantainya dijauhin. It’s flood in project. Bukan membendung, mempercepat air hulu, lalu memperlambat air keluar dari daratan Jakarta. Tadi Prof Emil (Salim) menerangkan bahwa Jakarta terlalu banyak penyedotan air tanah sehingga banyak pori-pori keropos sehingga air laut masuk. Jadi dua-dua. Satu banjir dari naiknya air laut, kedua cepatnya turun dari hulu karena dipercepat, penyodetan, pelurusan. Jadi tidak ada komprehensif pembangunan water set di mana DAS (daerah aliran sungai) diperbaiki, sungai direnaturalisasi, dikembalikan belok-belok supaya lambat lagi,” terang Susi.

“Karena kalau dilurusin erosinya juga akan lebih kencang. Sedimentasi tidak keluar karena kanan kirinya ditanggul. Jadi ke mana itu lumpur? Yang menaikkan permukaan dasar sungai. Permukaan dasar sungai naik, memangnya air berkurang setiap tahun? Tidak. Air tetap sama tiap tahun datangnya. Tapi permukaan dasar sungai naik berarti daya tampung air kurang. Tanggulnya ditinggiin, satu saat tidak kuat, jebol, banjir bandang. Itu yang terjadi,” sambungnya.

Ia juga mengutarakan pendapatnya tersebut bukan sebagai seorang Menteri, namun Ia menuturkan sebagia pribadi yang sangat peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Ia turut menyoroti soal reklamasi yang dilakukan di Teluk Jakarta yang menurutnya bakal menambah masalah besar untuk Jakarta.

“Itu satu pendapat saya sebagai orang yang peduli kepada lingkungan, bukan sebagai menteri, komentar saja tentang Jakarta banjir,” ucap Susi.

“Saya dengarnya mau bangun bendungan, bendungannya belum jadi, bendungan kan untuk menyimpan kelebihan air Jakarta. Untuk ditampung sebagai salah satu air minum, air tawar Jakarta. Tetapi bendungan belum jadi, pulau-pulau reklamasi sudah terjadi. Jadi ya tempat airnya ke mana?” lanjutnya.

Susi pun menyoroti masalah reklamasi sesuai dengan kewenangannya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Ia punya wewenang untuk dapat mengeluarkan izin pelaksanaan usai Kementerian LHK membuat analisis mengenai dampak lingkungan yang komprehensif.

“Di situ pun kami masih bisa berikan catatan-catatan, memberikan disposisi-disposisi tambahan bila diperlukan. Sekarang persoalannya adalah jadi yang betul rencana yang dipakai negara ini yang mana, ini juga yang bikin saya bingung terus terang aja. Mendengar Prof Emil bahwa negara ini menginginkan sebuah Teluk Jakarta untuk menambah satu ruang publik. Kedua untuk penanganan sedimentasi Jakarta dan korosifnya air tanah Jakarta supaya lebih baik. Kemudian tapi sekarang ini adalah pulau-pulau yang dibangun yang saya lihat kepentingannya berbeda,” terang Susi.

“Jadi untuk kita sebetulnya dikembalikan lagi tiga hal tadi yang diarahkan Presiden itu harus betul jadi patokan kita bersama. Dan go dan tidak go tentu komprehensif amdal dari Bu Siti Nurbaya. Jadi saya pikir sudah betul bahwa urusannya yang misalnya urusan Jakarta ini dibawa satu proyek yang ditangani pusat dan presiden juga pesan harusnya menjadi government driven bukan private driven,” tutup Susi. (ray).

loading...