Angkasa Pura 2

Cinlok Di Kereta, Bus & Kantor Penyebab Perceraian Di Kota Bogor

Emplasemen FigurKamis, 13 Oktober 2016
images (22)

BOGOR (BeritaTrans.com) – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto membeberkan penyebab perceraian tinggi di Kota Bogor, Jawa Barat.

Salah satu penyebabnya yakni faktor selingkuh yang bermula dari cinta lokasi (cinlok) dengan pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL) di bus, kereta dan kantor.

Bima mengatakan, angka perceraian cukup tinggi di kecamatan tertentu yang banyak warganya bekerja di Jakarta. Mereka pergi Subuh dan pulang larut malam, sehingga jarang ketemu istri dan anak.

Mereka berangkat Subuh karena takut macet, sudah pasti tidak ketemu anak istri. Kalau istrinya salehah, salat Subuh ya ketemu, kalau istrinya masih nyenyak dalam paduan, tidak ketemu,” ujar Bima Arya saat memberikan sambutan di acara Parent Gathering di Gedung Kemuning Gading, Selasa (11/10/2016).

Dikatakan Bima, sebagian warga Bogor yang kerja di Jakarta tiba larut malam di Bogor lantaran menunggu macet. Mereka baru tiba antara jam 9-10 malam. Saat itu, anaknya sudah pasti tidur. Istri kalau solehah, baru selesai ibadah. Besoknya begitu juga, minggu depannya begitu juga, bulan depannya begitu juga, bertahun-tahun selalu seperti itu.

“Senin sampai Jumat tidak ketemu anak istri, Sabtu dan Minggu anak istri sehat segar, kitanya yang peot karna capek,” imbuh Bima.

Kondisi itu semakin diperparah jika mereka menghabisakan waktu lebih banyak di kereta. Kondisi itu membuat mereka rawan ketemu PIL dan WIL, sehingga cinlok (cinta lokasi) di kereta, cinlok di bus, cinlok di kantor, dan terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Akibatnya, angka perceraian semakin tinggi.

“Makanya bapak ibu sekalian, waktu saya dikritik, ‘ini walikota wagiman (walikota gila taman), taman aja yang diurus’. Saya katakan begini, taman bukan hanya untuk mempercantik kota. Taman, bukan hanya menambah ruang terbuka hijau di kota-kota. Taman bukan hanya sekadar membuat kota sejuk di pandang, tapi taman adalah oksigen jiwa, taman adalah untuk keluarga,” imbuh Bima.

“Kita memimpikan hidup di Kota Bogor ramah anak. Bapak, ibu kalau menghabiskan waktu bukan di mall. Sesekali mah boleh ke sana, tetapi kalau tiap hari kesana, tekor,” imbuh Bima.

Tekor secara keuangan, tekor juga secara moril. Bima juga memimpikan ketika para keluarga bercengkrama di taman, anak-anak berlari-larian, suami istri berkejar-kejaran seperti film india.

“Kalau saya ke taman-taman, Taman Heulang yang baru kita bangun, Taman Ekspresion, Taman Sempur yang Desember akan selesai, itu pemandangan yang tidak ternilai. Bukan soal pikniknya, tapi soal keutuhan keluarga tadi,” tandas Bima Arya. (ani/sumber pojoksatu).