Angkasa Pura 2

Bantah Lecehkan Wanita Di Bandara Supadio, Bea Cukai: Pemeriksaan Oleh Petugas Perempuan

BandaraJumat, 14 Oktober 2016
images (2)

PONTIANAK (BeritaTrans.com) – Pihak Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, Tipe Madya Pabean B Pontianak, Kalimantan Barat mengklarifikasi duduk permasalahan terkait pemeriksaan yang dilakukan terhadap seorang penumpang di terminal kedatangan internasional Bandara Supadio Pontianak pada 11 Oktober 2016 pukul 16.20 WIB lalu.

Diberita sebelumnya, seorang penumpang pesawat atas nama Claudia Mozz kesal atas pengalaman buruk yang didapatnya di bandara tersebut. Ia merasa dilecehkan atas prosedur pemeriksaan keamanan bandara yang dianggapnya berlebihan dan di luar batas kewajaran.

images (4)

Pelecehan dimaksud adalah pakaian dalamnya disuruh buka oleh pihak pengamanan bandara. Bahkan, barang-barang bawaannya diacak-acak. Keluhan tersebut pun dituangkan melalui status di media sosial Facebook dan viral di grup Pontianak Informasi pada Selasa 11 Oktober malam.

Dalam statusnya, Claudia menyimpulkan bahwa awalnya, ia melewati pemeriksaan terkait dokumen perjalanan oleh pihak Imigrasi. Kemudian ia melewati pemeriksaan barang yang dilakukan oleh petugas Bea Cukai. Saat diperiksa pihak Bea Cukai, pemilik akun ini mengatakan jika ia disuruh oleh petugas untuk membuka pakaian dalamnya untuk diperiksa.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Pontianak, Dwiyono Widodo menjelaskan, memang telah dilakukan pemeriksaan terhadap seorang wanita penumpang Express Air Flight XN1870 rute Kuching-Pontianak dengan inisial DR pemegang paspor Indonesia dengan nomor A7667xxx. Perempuan tersebut diyakini sebagai pemilik akun Facebook Claudia Mozz.

“Dia setelah selesai proses pemeriksaan Imigrasi, selanjutnya pemeriksaan barang dilakukan oleh petugas Bea Cukai, dengan alat x-ray. Seluruh penumpang yang datang dari luar negeri dilakukan sama,” ujar Dwiyono sebagaimana dalam rilis yang diterima Okezone, Jumat (14/10/2016).

Berdasarkan hasil pencitraan x-ray, lanjut Dwiyono, petugas Bea Cukai merasa perlu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atas salah satu koper yang dibawa DR. Kemudian, hasil pemeriksaan koper yang dibawa oleh DR, tidak ditemukan adanya barang larangan atau pembatasan yang dibawa.

Meski demikian, pada saat dilakukan wawancara singkat, DR menunjukan gestur yang mencurigakan. Ia terlihat sangat gelisah. “Untuk itu kemudian petugas memberikan pertanyaan singkat dan DR bersikap gugup,” kata Dwiyono.

Dari hasil wawancara singkat, DR ketahui bekerja sebagai penyanyi di salah satu klub malam di Sibu, Malaysia. Diketahui pula rencana perjalanannya rute Sibu-Kuching-Pontianak-Jakarta-Bandung.

Dengan pertimbangan hasil wawancara singkat tersebut, petugas Bea Cukai menganggap perlu untuk melakukan pemeriksaan badan sampai dengan meminta orang yang diperiksa melepaskan pakaiannya dan atau dilakukan pengujian medis. Hal ini sesuai dengan Pasal 4 ayat (4) Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-38/BC/1997 tanggal 8 April 1997 tentang Pemeriksaan Badan.

“Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh petugas wanita Bea Cukai dan dilakukan dalam ruangan yang dapat dikunci dan tidak dapat dilihat dari luar untuk pemeriksaan badan,” katanya.

Dalam pemeriksaan tersebut, tegas Dwiyono, tidak ada tindakan pencabulan dan pelecehan. Pemeriksaan badan yang dilakukan juga merupakan salah satu tugas dan kewenangan Bea Cukai di area kedatangan internasional untuk mencegah masuknya barang-barang ilegal dan terlarang khususnya narkotika, psikotropika dan prekusor, dan lain sebagainya.

“Karena saat pemeriksaan saat itu tidak diketemukan adanya barang-barang bawaan yang melanggar ketentuan perundangan-undangan, sehingga saudari DR dapat segera meninggalkan tempat pemeriksaan dan meneruskan perjalanannya,” katanya.

Selain itu, kata Dwiyono, masyarakat perlu memahami bahwa pemeriksaan badan perlu dilakukan dalam upaya menemukan dan memberantas pemasukan barang berbahaya dan terlarang dengan berbagai jenis modus salah satu dengan body strapping, swallowing, dan lainnya.

“Hal ini dilakukan, semua tidak lain dalam rangka perang melawan peredaran Narkoba demi untuk melindungi generasi muda dan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (ani/sumber okezone).