Angkasa Pura 2

Solusi Atasi Horor Brexit Pada Natal Dan Tahun Baru 2016 Ala Taruni STTD

SDMFriday, 14 October 2016

BEKASI (Beritatrans.com) – Dua taruni program studi (prodi) D-IV Transportasi Darat (Transdar), Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi menyampaikan mini presentasi dengan tema “Mengantisipasi Kepadatan di Brebes Exit Tol (Brexit) Menjelang Libur Natal dan Tahun baru 2017.”

Presentasi itu disampaikan dengan Bahasa Inggris yang apik oleh dua taruni STTD, yaitu Ni Komang Risma dan Sherly A di Auditorum Giri Suseno Hadihardjono, STTD, Bekasi, kamis (13/10/2016). Seperti kelaziman di Kampus STTD, presentasi mini yang disampaikan di depan umum harus disampaikan dengan Bahasa Inggris yang baik dan memenuhi kaidah ilmiah.

Dibawah bimbingan Kajur Transdar D-IV Transdar STTD Dr.Efendhi Prih Rahardjo dan Kabag Administrasi Akademik dan Ketarunaan STTD Muh, Nurhadi,ATD, MT, MM, mereka bisa menyusun kertas kerja, untuk mewakili almamaternya menyampikan hasilnya ke publik.

Melalui kerja keras selama sebulan terakhir dibantu teman-temannya yang sedang Praktek Kerja apangan (PKL) di Brebes, mereka berhasil mengumpulkan data dan menyusun menjadi kertas kerja yang dipaparkan di depan Menteri PAN-RB Asman Abnur, Sekejn kemehub yang juga mantan Ketua STTD Sugihardjo dan Ketua STTD Zumafendi.

Menurut Komang, kasus Horor Brexit saat mudik Lebaran 2016 janbgan sampai terjadi lagi. Seperti dilaporkan Harian Kompas, dalam kasus Horo Brexit ada 18 orang meninggal karena terjebak macet paah selama 2-3 hari itu.

Komang STTD

“Untuk menghinbdari terulang kasus Horor Brexit, maka harus dilakukan manajemen transportasi yang baik. Pengelolaan transportasi harus dimulai dari Cikampek, Cirebon bahkan Brebes Barat sebelum akhirnya di pintu tol Brebes Timur. Jika volume kendaraan sudah tinggi, harus dikelola dan dilakukan pemisahan, sebagian melalui tol, jalur pantura bahkan sebagian harus melintas melalui jalur tengah dan selatan Jawa,” jelas Komang.

“Harus ada keseimbangan volume kendaraan di ruas tol, jalur pantura dan jalur tengah bahkan jalur selatan Jawa. Semua potensi harus dikelola dan diberdayakan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan baik Kementerian Perhubungan, Operator jalan Tol, Dinas Perhubungan, Organda, dan pengguna kendaraan pribadi terutama di Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa,” sebut Komang lagi.

Selanjutnya, papar putri Bali itu, pelayanan di loket pembayaran pintu Tol Brebes Timur, harus dipercepat. “Selama pelayanan masih lambat dan tidak ada perubahan, maka ancaman kemacetan tinggi masih akan terjadi. Pengguna jalan tol disarankan menggunakan transkasi non tunia atau e-toll,” tukas Komang yang mengaku sangat luar biasa bisa presentasi di depan Menteri PAN-RB Asman Abnur dan Kepala BPSDM Perhubungan Wahju Satrio Utomo itu.

Sherly STTD

Tambah Gerbang Tol Brexit

Sherly menambahkan, sudah saatnya menambah gerbang tol atau loket pembayaran terutama di Brebes Timur. “Jumlah gerbang pembayaran tol perlu ditambah dengan SDM profesional sehingga bisa melayani dengan cepat, tepat. Dengan begitu, potensi ancaman macet panjang bisa dikurangi,” kata dia.

Menurut putri asal Madiun Jawa Timur itu, pemerintah dan operator jalan tol perlu menambah efektifitas sosialisasi dan fasilitas seperti video tron dan lainnya yang senantiasa memberikan informasi kondisi dan kepadatan lalu lintas di jalan tol secara riil time.

“Pemerintah atau operator jalan tol bisa bekerja sama dengan operator dan aplikasi IT yang bisa menampilkan perkembangan arus lalu lintas. Berikan informasi riil time dan terus lakukan sosialisasi ke masyarakat. Jalan mana yang bisa dilalui dan mana yang rawan kemacetan,” papar Sherly.

Yang tak kalah pentingnya, menurut Sherly, Polri sebagai aparat penegak hukum di jalan harus tegas, jujur dan adil. “Jangan biarkan kesalahan atau pelanggaran lalu lintas terjadi saat peak season Natal dan Tahun Baru 2017 nanti. Atur dan arahkan ara pengguna jalan dengan baik, sesuai kondisi dan kapasitas jalan,” terang.

Macet Brexit ajee

“Kalau memang harus dilakukan rekayasa lalu lintas, pengalihan arus lalu lintas ke jalur alternatif, harus dipastikan jalan-jalan itu kondisinya baik dan laik jalan. fasilitas dan rambu-rambu lalu lintas cukup. Bila perlu ada aparat pemerintah dan Polri yang menjaga dan mengatur disana,” urai Sherly.

“Ke depan, harus ada kebijakan lalu lintas kendaraan yang simeteris dan sinergi yang kuat antara hulu yaitu di Jakarta dan sekitarnya dengan hilir atau sumber masalah yaitu di daerah Brebes dan daerah lain yang rawan kemacetan lalu lintas saat peak season,” tegas Sherly.(helmi)