Angkasa Pura 2

Kapal Besar Sulit Sandar Di Pelabuhan Tanjung Emas Akibat Kolam Alami Pendangkalan

DermagaKamis, 20 Oktober 2016
2016-10-20 06.54.58

SEMARANG (BeritaTrans.com) – Pengusaha kapal angkutan niaga, mendorong pengerukan di kolam terminal Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Upaya ini dilakukan agar kapal besar dapat lebih mudah bersandar untuk melakukan proses bongkar muat.

Ketua DPC Indonesian National Shipowners Assosiation (INSA) atau asosiasi pengusaha perusahaan pelayaran angkutan niaga, Ridwan menyebutkan, jika selama ini masih banyak kapal-kapal besar kesulitan bersandar untuk melakukan kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Hal itu disebabkan karena kedalaman alur laut untuk masuk ke pelabuhan masih pada posisi deklair minus 13 meter, sehingga menyulitkan kapal-kpal besar bersandar di pelabuhan Semarang.

Usulan itu menjadi salah satu program DPC INSA untuk terus mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan pengerukan lumpur sampai dengan -13 meter, saat ini kondisinya masih 8,5 meter.

“Jika kedalaman alur laut mampu mencapai -13 meter, maka kapal besar akan bisa sandar sesuai harapan kita, namun kenyataannya saat ini kapal besar tidak bisa masuk untuk sandar di pelabuhan Semarang,” katanya disela acara Rapat Anggota Cabang DPC INSA Semarang, Rabu (19/10/2016) di Hotel Aston Semarang.

Dampak dari tidak bisanya masuk kapal besar untuk sandar melakukan bongkar muat, dikatannya membuat rugi para pelaku usaha kapal angkutan niaga tersebut.

Selama ini, lanjutnya, hanya kapal kecil yang memiliki ukuran 7 meter (yang mengangkt 6-7 ribu ton) saja yang bisa bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

“Padahal posisi kita disini sangat memungkinkan untuk membuka jalur bagi kapal besar yang memiliki kapasitas 1000 kontainer untuk melakukan kegiatan bongkar muat, sasarannya yakni kapal 13 meter atau dengan DWT 50 ribu. Namun selama ini hanya 500 kontainer yang bisa dilayani di pelabuhan Semarang ini,” ucapnya seperti dikutip tribunnews. (lia).