Angkasa Pura 2

Jutaan Warga Amerika Sudah Mencoblos Pemilu

FigurMinggu, 23 Oktober 2016
Cckr_SSW8AELjY-

WASHINGTON DC (BeritaTrans.com) – Jutaan orang Amerika sudah memberikan suara, memilih presiden Amerika yang baru, lebih dari dua minggu sebelum hari pemilihan, 8 November.

Data baru Pew Research Center menunjukkan lebih dari empat juta suara sudah masuk hari Sabtu (22/10), dan sebelum pilpres 8 November tiba, total pemilihan awal mungkin membengkak melampaui 50 juta, jumlah tertinggi sejauh ini, dan akan menjadi proporsi signifikan dari jumlah seluruh pemilih, yang mungkin setidaknya 130 juta surat suara.

images (4)

Menurut data Sensus Amerika, pada tahun 1996, sekitar 10 persen pemilih menggunakan metode pemberian suara alternatif, apakah memilih lebih awal atau memberikan suara melalui pos. Empat tahun lalu, dalam pemilihan presiden terakhir, angka itu naik tiga kali lipat, menjadi hampir 33 persen.

Dan di beberapa negara bagian, jumlah itu jauh lebih tinggi. Data peneliti Pew menunjukkan, lebih dari separuh kertas suara dalam pemilu tahun 2012 di Nevada, Arizona, Texas, North Carolina, Montana, New Mexico dan Tennessee diisi lebih awal atau dikirim melalui pos.

Berbeda dari umumnya negara demokrasi, Amerika tidak memiliki sistem pemilu secara terpusat, artinya setiap negara – dan dalam beberapa kasus bahkan tiap county, menentukan bagaimana dan kapan warga bisa memilih. Aturan dan tanggal berbeda tiap negara bagian, tetapi lebih dari separuh dari 50 negara bagian di Amerika memungkinkan beberapa bentuk pemilihan awal, baik secara langsung maupun dikirim via pos.

Negara bagian Oregon, Washington, dan Colorado melakukan pemilihan sepenuhnya melalui surat suara yang dikirim lewat pos. California dan District of Columbia (DC) memungkinkan warga memilih awal baik secara langsung atau melalui surat, sedangkan negara-negara bagian lain hanya membolehkan satu metode.

MENCENGANGKAN
Sementara itu, epanjang kampanye tahun 2016 perhatian berpusat pada komentar-komentar yang dibuat Trump mengenai perempuan, seks, ras dan pemilu yang dicurangi. Salah satu organisasi yang mengamati secara seksama wacana politik adalah Southern Poverty Law Center, yang selama 45 tahun berjuang melawan kebencian dan diskriminasi di Amerika.

Di Amerika dua topik yang umum memicu perdebatan sengit/argumen atau bahkan adu-jotos adalah politik dan agama. Sepanjang masa kampanye khususnya belakangan ini, perhatian berpusat pada komentar-komentar yang dibuat oleh Donald Trump.

Para pengecam menyebutnya rasis dan penuh syak wasangka dan kebencian. Ia dan pendukungnya menolak tuduhan-tuduhan itu dan menuduh media memutar balikkan apa yang dikatakannya.

Mark Potok dari Southern Poverty Law Center’s Intelligence Project, menyebut iklim politik saat ini sebagai “mencengangkan” dan mengatakan Trump sebagai penyebabnya.

“Donald Trump membuat situasi di mana pendukung supremasi kulit putih dan kelompok kelompok sekutunya benar-benar gembira. Mereka merasa punya calon yang membawa mereka sekurangnya pada tahun 1968 ketika George Wallace seorang pendukung pemisahan ras mencalonkan diri sebagai presiden Amerika,” kata Potok.

Wallace menjabat selama empat periode sebagai gubernur Alabama. Ia mencalonkan diri sebagai calon presiden Partai Independen Amerika dan kalah.

Potok mengatakan kelompok ekstrem yang mendukung Wallace juga mendukung Trump.

“Donald Trump pada dasarnya telah membuka penutup kotak Pandora yang memungkinkan ruang politik, membantu menciptakan ruang politik, di mana hal-hal ini, ide bahwa Amerika adalah negara orang kulit putih dan seterusnya dikumandangkan. Mereka telah memasuki bidang politik,” tambahnya.

Potok mengatakan ada calon anggota Kongres di negara bagian Tennessee yang menggunakan slogan Donald Trump “Membuat Amerika Jaya Kembali” dan mengubahnya menjadi “Membuat Amerika (Kulit) Putih Kembali”.

Potok mengatakan ini adalah saat yang “mengkhawatirkan” di Amerika dan ia khawatir kekerasan terkait politik “sangat mungkin terjadi” setelah pemilu presiden.

Trump menuduh media sering mengartikan lain pernyataan-pernyataannya termasuk liputan mereka mengenai tuduhan-tuduhan bahwa ia meraba-raba perempuan.

“Pemilu dicurangi oleh media yang korup yang mendorong tuduhan-tuduhan palsu dan kebohongan nyata dalam upaya memilih Hillary Clinton sebagai presiden. Tapi kita akan menghentikannya. Kita tidak akan mundur,” tegas Trump.

Selama debat wakil presiden, calon wapres Partai Republik Mike Pence membela Trump dari tuduhan-tuduhan bahwa Trump menyebut orang Meksiko pemerkosa dan menghina perempuan dan mengatakan Presiden Obama bukan warga Amerika.

“Ia bahkan jauh dibandingkan penghinaan yang disampaikan Hillary Clinton ketika Clinton mengatakan separuh dari pendukung kami adalah kumpulan orang yang menyedihkan dan mengatakan mereka tidak bisa diperbaiki,” bela Pence, Cawapres Trump.

Pence menyangkal bahwa calonnya rasis. Sementara dalam wawancara baru-baru ini pada jaringan CNN, Melania Trump membela suaminya dengan mengatakan ia baik, baik budi dan seseorang yang mendukung perempuan.
Banyak pengamat setuju tidak satupun calon selalu mengatakan yang sebenarnya, tapi Clinton belum pernah dituduh memberi komentar-komentar yang rasis atau seksual. (awe).