Angkasa Pura 2

Tindakan Nakhoda Kandaskan KM Lambelu Dinilai Tepat

DermagaRabu, 26 Oktober 2016
IMG-20161024-WA038

TARAKAN (BeritaTrans.com) – Apa penyebab kandasnya Kapal Muatan (KM) Lambelu di area Selat Lingkas, perairan Tarakan pada Sabtu dini hari (22/10) lalu? Dari keterangan awal yang dipublikasikan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan, dikatakan jika nakhoda KM Lambelu terpaksa mengambil jalur kiri dari lampu suar berwarna merah, lantaran di posisi depan pada bagian kanan terdapat beberapa kapal.

Lho, kok di alur pelayaran yang saat itu ingin dilalui KM Lambelu terdapat beberapa kapal yang seharusnya steril? Dari pertanyaan ini, Radar Tarakan mendapatkan informasi jika kinerja di alur pelayaran sudah berjalan baik saat kejadian ini.

Dari tiga komponen eksternal yang ada, semuanya berfungsi. Yakni kondisi lampu suar merah dan hijau, yang menjadi alur pelayaran menyala normal, kemudian sarana telekomunikasi berupa Global Maritime Distress Safety System (GMDSS) juga berfungsi, dan alat pemantauan data kapal (Ship Reporting System) berupa Automatic Identification System (AIS), juga normal.

Diketahui saat menjelang kejadian kapal kandas ini, alur pelayaran Tarakan terlihat “sibuk”. Di tengah alur ini terdapat kapal pengangkut batu bara yang sedang melintang menutupi alur pelayaran. Dijelaskan Nakhoda KN Sarang Aloe, milik Distrik Navigasi Tarakan Edy Rachmad saat dikonfirmasi Radar Tarakan kemarin (25/10/2016), keberadaan kapal tersebut sudah disampaikan kepada otoritas terkait.

“Kami sebagai petugas yang mengamankan alur, memberikan laporan ini kepada pilot station kepanduan, kami minta agar segera kapal itu dipindahkan karena mengganggu alur masuk dan keluar,” jelas Edy.

Selain melaporkan kepada pilot station, Sarang Aloe juga melaporkan kondisi ini ke pihak radio pantai, yang juga mengabarkan agar kapal yang menghalangi alur pelayaran segera dipindahkan. “Saya sempat menerka kalau ada kapal Pelni yang masuk nanti dan kapal itu belum dipindahkan, kemungkinan besar dia (kapal Pelni) akan kandas. Setelah kami kembali menuju daratan, ternyata malam itu benar kejadiannya,” ungkapnya.

Menurut ahli nautika lulusan akademi maritim di Kota Makassar ini, tindakan yang diputuskan kapten KM Lambelu yang mengambil alur kiri hingga mengandaskan kapal tersebut merupakan langkah yang tepat. “Saya rasa kapten di kapal ini cukup cakap. Sebab kalau dia tempuh alur kanan, akan lebih berbahaya. Bisa menimbulkan korban jiwa karena menabrak kapal yang menghalangi itu,” jelasnya.

Sementara itu, kejadian kandasnya KM Lambelu ini turut mengundang perhatian dari pemerintah pusat. Tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) beserta Mahkamah Pelayaran, dan Direktur Perkapalan dan Kelautan (Ditkapel) hadir di kota ini kemarin, untuk menjalankan investigasi penyebab kandasnya kapal ini.

Dikatakan hakim Mahkamah Pelayaran Karolus Sengadji, pihaknya sudah mendapatkan data awal berupa kondisi kronologis dari hasil investigasinya terhadap Nakhoda KM Lambelu dan juga dari pihak Keysahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) kelas III Tarakan. “Semua keadaan dalam kondisi baik dan kapal KM Lambelu layak jalan,” kata Karolus.

Menurut Karolus, KM Lambelu yang menghindar dari tugboat dan pengangkut batu bara, hingga menempuh haluan kiri agar tidak terjadi tubrukan, merupakan pertimbangan yang menimbulkan risiko terkecil. “Risiko ini diambil dengan pertimbangan adanya korban jiwa jika haluan kanan tetap dilakukan,” ungkap Karolus.

Ditegaskannya, kehadiran tugboat yang menganggu alur pelayaran ini akan ditindak tegas di Berita Acara Perkara (BAP). “Alur pelayaran ini dipakai bersama kapal bebas untuk keluar-masuk. Baik kapal penumpang dan tugboat. Soal ini, semua sedang dievaluasi dan dilihat keterlibatan tugboat,” jelasnya.

Hal ini akan digambarkan pula pada proses berita acara pemeriksaan, setelah itu dievaluasi dan disidangkan di Mahkamah Pelayaran. “Jika nakhoda terbukti bersalah, akan menerima sanksi administrasi. Yakni paling lama akan dikenakan sanksi 2 tahun ijazah berlayarnya ditahan,” jelasnya.

Selain dari nakhoda, semua petugas yang berdinas saat itu dari berbagai instansi juga akan diproses. “Kalau nakhoda memiliki alasan yang kuat tidak ada kelalaian, maka kemungkinan tidak diberi sanksi adminstrasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) kelas III Tarakan Abdul Rahman mengatakan, untuk sementara waktu ini pihaknya hanya terfokuskan pada proses evakuasi penumpang saja. Setelah proses ini selesai, pihaknya akan segera memanggil kru dari KM Lambelu dan juga tugboat yang melintang di alur pelayaran, untuk keperluan interogasi letak permasalahan ini. “Kami juga akan berkoordinasi dengan Distrik Navigasi Kelas III Tarakan karena kecelakaan ini termasuk dalam alur pelayaran,” ungkapnya. “KSOP juga akan mengevaluasi tentang pengawasan alur pelayaran ini, agar tidak terulang kejadian kecelakaan kandasnya KM Lambelu,” tegas Abdul Rahman.

Proses evakuasi penumpang KM Lambelu ini sudah berakhir kemarin. 178 penumpang sudah dibawa keluar dari kapal milik PT Pelni ini menggunakan Landing Craft Tank (LCT) Bison 01 menuju Pelabuhan Malundung.

Dari jumlah ini, 111 penumpang diikutsertakan ke KM Bukit Siguntang, untuk keberangkatan tujuan Balikpapan dan Parepare. Sementara 67 penumpang lainnya dengan tujuan Larantuka, NTT, belum dapat diberangkatkan karena belum ada jadwal keberangkatan kapal menuju wilayah ini. Para penumpang ini baru akan diberangkatkan pada 30 Oktober mendatang, juga lewat KM Bukit Siguntang. (ani).