Angkasa Pura 2

Bank Dunia Kucurkan 400 Juta Dolar Ke Indonesia Untuk Perbaiki Logistik & Perlancar konektivitas

DermagaSelasa, 8 November 2016
Dwelling-Time-Pelabuhan-Tanjung-Priok-2015

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dewan Eksekutif Bank Dunia mengucurkan Pinjaman Kebijakan Pembangunan (Development Policy Loan) Reformasi Logistik Indonesia yang pertama untuk memperbaiki logistik dan memperlancar konektivitas sebesar $400 juta dolar AS atau setara Rp5,2 triliun (asumsi kurs Rp13.000 per dolar AS)

Rodrigo Chaves, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia mengatakan kedua bidang ini sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan di negara kepulauan.

“Pendanaan sebesar 400 juta dolar AS akan mendukung Pemerintah Indonesia mengatasi hambatan rantai pasokan, seperti dwelling time atau waktu menunggu kapal yang lama di pelabuhan serta banyaknya prosedur izin perdagangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, pekan lalu.

Ia menjelaskan, akibat dari lama dwelling time tersebut, biaya logistik di Indonesia sebesar 25 persen dari penjualan manufaktur, lebih tinggi dibandingkan 15 persen bagi Thailand dan 13 persen untuk Malaysia.

Bahkan, Chaves menjelaskan, biaya pengiriman sebuah peti kemas berisi jeruk dari Tiongkok dari kota Shanghai ke Jakarta lebih murah dibandingkan biaya pengiriman barang serupa dari Jakarta ke Padang di Sumatera Barat. Padahal jarak antara kedua kota di Indonesia tersebut hanya seperenam jarak antara Jakarta dengan Shanghai.

“Logistik yang lebih baik untuk meningkatkan konektivitas akan memberi dampak signifikan bagi daya saing negara juga terhadap kemiskinan. Perbaikan logistik bisa mengurangi biaya barang dan jasa, khususnya di wilayah terpencil dan tertinggal Indonesia,” ungkapnya seperti dikutip cnnindonesia.

“Reformasi ini akan membantu Indonesia mencapai sasaran pertumbuhan inklusif yang lebih tinggi.”

Lebih lanjut, Pinjaman Kebijakan Pembangunan Reformasi Logistik juga akan mendukung Indonesia melakukan transisi yang sangat diperlukan, yaitu beralih dari ekonomi yang bergantung kepada komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur yang berdaya saing tinggi.

“Logistik yang mahal dan tidak handal merupakan salah satu hambatan bagi daya saing Indonesia. Teratasinya hambatan tersebut akan menambah produksi dan ekspor, sehingga mengangkat pertumbuhan ekonomi,” kata Ekonom Senior Bank Dunia, Massimiliano Calì.

“Dan dengan berakhirnya masa kejayaan komoditas, kebutuhan untuk memperbaiki daya saing dalam hal produksi non-komoditas menjadi semakin penting.”

Untuk diketahui, tiga komponen utama pendanaan ini adalah peningkatan kinerja pelabuhan, peningkatan daya saing layanan logistik, serta memperkuat fasilitasi perdagangan.

Dukungan Bank Dunia terhadap reformasi logistik di Indonesia merupakan bagian penting dari Kerangka Kerja Kemitraan Negara Kelompok Bank Dunia di Indonesia, yang berpusat pada prioritas pemerintah yang berpotensi membawa dampak perubahan besar. (della).