Angkasa Pura 2

PT Pindad Targetkan Ekspor Naik Menjadi 40% Dari Total Produksi

Ekonomi & Bisnis Hankam OtomotifJumat, 6 Januari 2017
2017-01-06 18.21.36

SURABAYA (Beritatrans.com) – Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose, mengatakan terus menggenjot kinerja ekspor terutama produk kendaraan militer seperti tank dan panser.

Di era pasar bebas saat ini, dia ingin melebarkan pangsa pasar ekspor mencapai 40 persen dari total produksi.

IMG_20170106_181632

Saat ini, dia menutyrkan 80 persen produk Pindad dipasarkan di dalam negeri. Sisanya 20 persen diekspor ke berbagai negara.

“Kami harapkan komposisinya 60 persen pasar dalam negeri dan 40 persen ekspor. Tapi bukan berarti yang domestik turun, namun pasar ekspornya naik menjadi 40 persen,” kata Abraham kepada wartawan di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (6/1/2017).

Abraham menyebutkan, beberapa produk PT Pindad seperti tank, panser, dan senjata. Sedangkan produk di luar bidang militer antara lain alat berat seperti ekskavator.

Untuk meningkatkan ekspor, PT Pindad melakukan kerja sama dengan vendor-vendor maupun pabrikan yang lebih maju. Perusahaan akan bekerja sama dengan vendor yang telah memiliki bahan yang belum dimiliki Pindad atau sebaliknya.

IMG_20170106_181518

Terlebih di era MEA, menurut Abraham perusahaan harus berkompetensi dari kesiapan SDM, kemampuan berinovasi, dan dari kesiapan sertifikasi keahlian.

“Saat ini kami menjajaki beberapa negara tujuan ekspor yang diperbolehkan untuk dilakukan ekspor, tentunya atas seizin Kementerian Pertahanan,” ujar Abraham seperti dikutip laman republika.online.

IMG_20170106_181539

Ikut Berbagai Lomba

PT Pindad juga gencar melakukan promosi agar produknya diminati negara lain. Salah satu caranya dengan mengikuti kejuaraan tingkat internasional. Ia menyebut, senjata buatan Pindad telah berhasil meraih gelar juara sebanyak sembilan kali di tingkat internasional.

Abraham menambahkan, produk-produk Pindad menggunakan bahan baku 60 persen dari lokal, sisanya 40 persen masih impor. Bahan baku yang impor tersebut misalnya pelat-pelat besi khusus yang memang belum diproduksi di dalam negeri, serta bahan-bahan spesifik yang belum tersedia di dalam negeri.

Meski demikian, Pindad terus berupaya agar komponen dalam negeri (TKDN) menjadi 100 persen sesuai dengan arahan Presiden RI. Salah satu caranya dengan melakukan substitusi impor. Ada beberapa produk yang dibuat dengan material dalam negeri. Selain itu, produk yang tidak dituntut spesifikasi tinggi kemudian menggunakan plat-plat baja dan besi dari PT Krakatau Steel.

“Ada yang untuk pola-pola operasional itu kita sudah produksi dalam negeri. Tapi ada beberapa hal yang menuntut spesifikasi tinggi mau tidak mau komponen kita impor,” tegas Abraham.(helmi/rol)