Angkasa Pura 2

Badan Litbang Akan Teliti Bandara Langganan Kecelakaan

LitbangMinggu, 8 Januari 2017
IMG_20161215_120839

JAKARTA (beritatrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhubungan akan meneliti bandara-bandara yang sering terjadi kecelakaan penerbangan. Penelitian akan dilakukan secara menyeluruh agar hasilnya dapat dijadikan sebagai upaya meningkatkan keselamatan para pengguna jasa penerbangan.

“Ada beberapa bandara yang sering terjadi accident serupa seperti pesawat tergelincir atau overshoot dan landing crash. Bandara-bandara seperti inilah yang akan kami teliti,” kata Kepala Badan Litbang Perhubungan DR. Ir. Agus Santoso, M.Sc., kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans di Jakarta, Minggu (8/1/2017).

Agus mengatakan, penelitian terhadap bandara-bandara itu merupakan bagian dari program kerja prioritas yang dilakukan oleh Badan Litbang Perhubungan selama tahun 2017.

Menurutnya, penelitian merupakan aspek penting dalam semua perencanaan transportasi, baik dalam menentukan kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi maupun pola pelayanan transportasi kepada masyarakat.

“Hasil penelitian harus menjadi basic perencanaan pengembangan transportasi. Tanpa penelitian, pengambilan kebijakan di sektor transportasi akan timpang, bahkan dapat menimbulkan inefisiensi dan membahayakan keselamatan bertransportasi,” ujarnya.

Selain akan meneliti bandara-banara yang sering terjadi accident, Badn Litbang Perhubungan juga akan mengerjakan berbagai program prioritas lainnya seperti survey Asal Tujuan Transportasi Nasional (ATTN) Penumpang; Studi Master Plan Pelabuhan Laut di 9 lokasi (wilayah Maluku dan Sulawesi); Studi Penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Bandar Udara Jila – Kabupaten Mimika; Penelitian Pengembangan Energi Alternatif di Bandar Udara Terpencil dan Terisolir (Solar Cell, Air Bersih dan Hydro Power); Pengkajian Optimalisasi Jalur Penerbangan di Selatan Pulau Jawa; Pengkajian Fatique Risk Management System (FRMS) dan Ketentuan Batas Umur terhadap SDM Penerbangan di Indonesia; Black Box Kendaraan Angkutan Umum dan B3; SNI Infrastruktur Transportasi Tahan Gempa; dan Review Rencana Induk Integrasi Transportasi.

“ATTN Penumpang akan menggunakan dua cara yaitu menggunakan data yang beradal dari telepon seluler dan survey lapangan secara langsung,” kata Agus.

Pemanfaatan data telepon seluler dijadikan sebagai data utama pergerakan penumpang. Jadi setiap pergerakan orang yang terekam oleh operator telepon seluler akan diolah menjadi data primer. SEdangkan data yang berasal dari direct survey atau survey lapangan secara langsung dijadikan sebagai alat validasi bagi data-data yang diambil dari data telepon seluler.

Kedua data tersebut kemudian diolah sehingga menghasilkan data pergerakan penumpang yang benara-benar valid.

“Dan yang lebih penting, data pergerakan penumpang itu dapat kita update setiap tahun,” ujarnya.

Selama tahun 2017, Badan Litbang juga akan melakukan kajian optimalisasi jalur penerbangan di Pulau Jawa Bagian Selatan. Wilayah tersebut selama ini dianggap masih belum mendapatkan sentuhan yang maksimal bagi pengembangan transportasi. Selama ini pengembangan transportasi lebih banyak berpusat di Pulau Jawa bagian Utara dan Tengah.

“Presiden Joko Widodo berkehendak agar pembangunan transportasi di Pulau Jawa bagian selatan juga diperhatikan, sehingga pertumbuhannya merata,” kata Agus.

Menurutnya ada beberapa daerah yang saat ini sedang dikaji oleh Badan Litbang. Diantaranya di Kabupaten Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Banyumas, Tulung Agung atau Kediri, dan beberapa daerah di wilayah Jawa bagian selatan lainnya.

Review Rencana Induk Integrasi Transportasi juga dinilai Agus sebagai program yang harus segera dilakukan. Integrasi antarmoda menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ditawar-tawar karena hal ini sangat terkait dengan efisiensi sistem logistik nasional.

Salah satu contohnya adalah integrasi bandar udara dengan kereta api. Bahkan integrasi transportasi juga dapat dilakukan terhadap moda darat dan laut, sehingga semua moda transportasi saling terhubung. Dengan adanya integrasi moda transportasi ini diyakini akan mampu menciptakan efisiensi yang lebih baik.

“Setelah Kualanamu-Medan, selanjutnya sejumlah bandara juga akan terintegrasi dengan jalur KA. Di antaranya bandara Internasional Padang, Bandara Adisumarmo Solo dengan stasiun kota Balapan, Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta dengan jalur luar,” ujar Agus.

Dia membandingkan Bandara Heathrow London dengan dua bandara lain yang berdekatan dengan menggunakan sistem city airport. Adapun Bandara Adi Sucipto Yogyakarta dengan Adi Soemarmo Solo, yang hanya berjarak sekitar 50 kilometer, bisa menjadi city airport. Bandara Soekarno Hatta dengan Bandara Halim Perdanakusuma juga merupakan city airport.

“Masih ada bandara lain yang dikembangkan, antara lain Bandara Juanda Surabaya yang akan diintegrasikan dengan jalan raya dan rel KA. Sehingga konektivitas antarkota jadi terwujud,” katanya. (aliy)