Angkasa Pura 2

Pemilik dan Nakhoda Kapal Tradisional Harus Patuhi Keselamatan Pelayaran

DermagaSenin, 9 Januari 2017
IMG-20170109-WA0019

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Musibah terbakarnya KM. Zahro Express masih menyisakan duka bagi transportasi laut di Indonesia. Banyak korban berjatuhan pada kejadian di awal Januari 2017 tersebut.

Berkaca dari kejadian tersebut, Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melakukan sejumlah langkah strategis agar musibah serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono, telah mengeluarkan lagi aturan di bidang keselamatan pelayaran khususnya untuk kapal tradisional/kapal rakyat.

Tak hanya itu saja, Ditjen Hubla juga menyelenggarakan Sosialisasi Keselamatan Pelayaran Kapal Penumpang Tradisional/Kapal Rakyat di Terminal Penumpang Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (9/1/2017).

Pada sosialisasi tersebut, Dirjen Tonny menyampaikan berbagai informasi penting di depan para pemilik kapal, Nakhoda dan masyarakat sekitar tentang pentingnya keselamatan pelayaran.

“Dalam pelayaran tradisional, yang paling penting adalah penggunaan jaket pelampung,” ungkap Tonny.

Dia juga menegaskan bahwa keselamatan pelayaran merupakan tanggung jawab bersama, bukanlah salah satu pihak saja.

“Tugas keselamatan bukan hanya milik regulator. Tapi juga milik semuanya, termasuk operator pelayaran dan penumpang. Intinya, karena ini pelayaran tradisional, harus pakai life jacket. Kecuali kapal Pelni dan kapal besar,” kata Tonny.

Dirjen Tonny didampingi Kadishub DKI Jakarta, Kapolres Jakarta Utara, Bupati Kepulauan Seribu, Direktur Pembinaan Keselamatan Ditjen Perhubungan Darat serta jajaran pejabat Perhubungan Laut lainnya seperti Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai serta para KSOP di lingkungan UPT Ditjen Hubla di Jakarta. (omy)