Angkasa Pura 2

Pengurus Alumni STIP: Taruna Menjaga Tradisi Saling Asih, Asah & Asuh

SDMRabu, 11 Januari 2017
2017-01-11 13.56.50

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sejak tahun 2008, baru kali ini terjadi lagi penganiayaan terhadap taruna di dalam kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Jakarta Utara.

“Kami ikut berduka atas wafatnya seorang taruna semester I hari ini,” ungkap Capt.Johnny Max Lengkong, salah satu pengurus ikatan almuni STIP (Corps Alumni Akademi Ilmu Pelayaran/CAAIP), Rabu (11/1/2017).

Dia berharap kejadian kekerasan di STIP tidak kembali terulang. “Karena memang kekerasan bukan merupakan tradisi di STIP. Kami mengedepankan tradisi saling asih, salah asuh dan saling asah,” tutur alumni STIP angkatan 18 tahun 1978 itu.

Tradisi saling asih, asah dan asuh itu, dia mengutarakan terbukti tetap terpelihara. “Anak saya juga baru lulus dari STIP tahun 2015. Dia bilang memang persahabatan dan bahkan kekeluargaan antartaruna begitu kental,” jelasnya.

2017-01-11 13.24.37

Kepada BeritaTrans.com dan tabloid mingguan BeritaTrans, dia mengemukakan bila melihat ke belakang maka data menunjukkan kekerasan di dalam kampus terjadi sebelumnya pada tahun 2008.

Dengan demikian, dia menegaskan selama delapan tahun Badan Pengembangan SDM Perhubungan Kementerian Perhubungan dan STIP menunjukkan kinerja luar biasa dalam meningkatkan pengawasan dan pelayanan kepada taruna.

Sampai tahun ini atau kurun waktu delapan tahun, Johnny mengemukakan taruna mendapatkan pelayanan bagus dari pihak kampus. “Saya melihat ada tembok tinggi dilengkapi kawat berduri untuk membatasi asrama setiap angkatan. Begitu pula ada CCTV di setiap penjuru kampus. Ada 24 petugas jaga bekerja bergantian 24 jam,” ujarnya.

Dia menuturkan selama delapan tahun pula STIP sudah melahirkan sekitar 10.000 tenaga ahli pelayaran dan kepelabuhanan. Jumlah itu akan semakin besar lagi bila dikalkulasi sejak kelahiran STIP. Sebagian dari mereka menjadi pelaut di kapal asing. Mereka memberikan kontribusi devisa besar kepada negara.

2017-01-11 13.25.00

Dengan demikian, dia menegaskan sumbangsih STIP sangat besar terhadap negara ini. “Karenanya, saya mohon mari kita melihat sisi mengkilaunya STIP. Jangan karena ada satu taruna wafat karena kekerasan, lalu kita lupakan jasa besar STIP,” ungkapnya.

Hal senada dikemukakan pengamat transportasi Agus Pambagio. Jasa besar STIP harus juga diperhatikan sehingga publik obyektif menilai STIP.

“Hanya saja memang STIP harus membangun lagi mekanisme pengawasan sehingga dapat betul-betul mencegah kekerasan terhadap taruna,” tegas mantan pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu. (gus).