Angkasa Pura 2

Pahamilah Betapa Besar Sumbangsih STIP Untuk Negeri Ini

SDMKamis, 12 Januari 2017
stip

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Saat ini, terdapat 1.400 taruna sedang menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Marunda, Jakarta Utara. Mereka sedang dalam proses menjadi tenaga ahli pelayaran, termasuk di dalamnya kepelabuhanan.

Kelak sebagian di antara mereka akan bekerja di kapal-kapal asing. Mereka menjadi dari TKI terdidik yang akan memproduksi devisa dan menyumbangkan kepada negara.

Pada tahun 2014 saja, data Corps Alumni Akademi Ilmu Pelayaran (CAAIP) menyebutkan terdapat 7.772 perwira dihasilkan sekolah, yang sebelumnya bernama AIP serta Pendidikan dan Latihan Ahli Pelayaran tersebut. Rinciannya, 3.346 jurusan nautika, 2.974 teknika, 1.346 ketatalaksanaan dan 106 elektro.

Sebagian besar almuni STIP bekerja di perusahaan pelayaran kelas dunia. Korporasi logistik dari Eropa, Asia dan Amerika mengakui andalnya perwira lulusan sekolah pelayaran tersebut.

“Sebagian besar perwira tersebut bekerja di kapal besar seperti kargo, tanker dan kapal pesiar. Hanya sedikit yang bekerja di tugboat seperti di perusahaan offshore. Kapal-kapal itu milik perusahaan asing. Sisanya yang bekerja di perusahaan nasional,” ungkap Bobby R Mamahit, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua CAAIP.

Pelayaran asing amat meminati pelaut Indonesia, termasuk lulusan STIP, karena terkenal tangguh, profesional dan andal bekerja dalam tim. Pada banyak hal, mereka bahkan memiliki nilai lebih ketimbang pelaut dari negara lain. Nilai itu antara lain mau lebih banyak belajar untuk memperluas keterampilan yang dibutuhkan di kapal.

DEVISA
Lalu berapa devisa yang dihasilkan oleh pelaut Indonesia, termasuk dari STIP, dari bekerja di kapal asing? Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan Dr. Wahju Satrio Utomo (Tommy) mengemukakan jumlah pelaut Indonesia yang bekerja di kapal-kapal asing mencapai 78.000 orang.

“Dengan asumsi mereka menerima gaji US$3.0000 per bulan, maka devisa yang dikirimkan kepada keluarganya di Tanah Air mencapai Rp16 triliun setahun,” kata Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan Dr. Wahju Satrio Utomo saat dikonfirmasi beritatrans.com di Jakarta, Minggu (8/1/2/2017).

Kontribusi pelaut pada perekonomian Indonesia cukup besar. Mereka adalah pekerja profesional yang dibayar dengan gaji lumayan besar. Besarannya beragam sesuai tingkat dan posisi mereka di atas kapal.

“Untuk nakhoda atau captain kapal bisa mencapai US$12.500 per bulan. Sedang ABK biasa antara US$2.500-US$3.500 per bulan,” jelas Tommy.

PNBP
Tidak hanya melahirkan pelaut-pelaut pahlawan devisa, STIP juga menghasilkan pendapatan kepada negara. Tahun 2016, STIP menghasilkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sampai Rp160 miliar. Jumlah itu yang sudah masuk ke kas STIP sebagai Badan Layanan Umum (BLU) pada pekan pertama Desember 2016.

Data itu dikemukakan Kasubag Rumah Tangga dan Humas STIP Jakarta Capt. Ariandy S.Bachri, M.Sc didampingi Kasubag Keuangan Alexander Hilmi Perdana, S.SiT

KEKERASAN
Sumbangsih begitu besar STIP terhadap negara terlalu naif untuk dilupakan begitu saja seiringan dengan munculnya kasus penganiayaan berujung kematian seorang taruna STIP, Rabu (11/1/2017). Tidak elok juga kita membombardir penilaian negatif kepada STIP. Bahkan terlalu gegabah bila ada pihak, termasuk anggota DPR, mengusulkan untuk membubarkan STIP karena munculnya kasus kekerasan tersebut.

Kalau setiap ada persoalan lalu solusinya adalah usulan pembubaran, maka selain kita tidak bijak juga patut dipertanyakan kualitas akademis kita. Usulan itu juga menyedihkan karena dapat dikenakan kepada kasus lainnya, termasuk dalam kaitan kapal KM Zahro Express.

Kalau kasus STIP menewaskan satu orang saja solusinya pembubaran, bagaimana pula dalam kasus kapal Zahro Express yang menyebabkan 23 orang meninggal dunia. Apa kita mengusulkan operasional kapal ojek di Kali Adem juga dibubarkan? Tentunya kan tidak.

Usulan pembubaran dan komentar ‘menusuk hati’ terhadap STIP terkesan melupakan beratnya mengelola 1.400 taruna dalam satu asrama. Setiap hari mereka kontak fisik. Gesekan sosial sulit dihindari.

Bayangkan saja, kita saja kadang kesulitan mendidik anak yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Bagaimana pula kita mendidik ribuan anak dari latar belakang pengalaman, pendidikan, sosial dan karakter yang berbeda.

PENATAAN
Dalam kasus kekerasan di dalam kampus STIP yang muncul lagi setelah delapan tahun memang ada persoalan besar yang patut dibenahi di sekolah tersebut. Satu aspek besarnya adalah pengawasan.

Masalah besar ini pun segera direspon cepat oleh Badan Pengembangan SDM Perhubungan Kementerian Perhubungan. Seperti dikemukakan Kepala BPSDM Perhubungan, Wahju Satrio Utomo, pihaknya akan menambah tenaga pengawas, sekaligus akan menggelar tes psikologi terhadap instruktur dan pengawas.

Respon dan agenda perbaikan tersebut terbilang sangat tepat. Aspek pengawasan memang berperan penting dalam proses STIP mendidik putra-putri bangsa menjadi tenaga ahli transportasi laut.

Adalah patut bagi kita untuk memberikan dukungan besar terhadap agenda perbaikan tersebut. Dukungan itu paling minimal tidak memberikan komentar yang berpotensi melemahkan semangat belajar taruna STIP. Lebih mulia lagi berdoa agar tidak ada lagi kekerasan di STIP. Alfatihah

Agus Wahyudin
Direktur Institut MD9
Pimpinan BeritaTrans